

Semua orang pasti akan menganggap sebelah mata anak yang mengulang masa Sekolah (alias tinggal kelas). Terlebih lagi jika anak tersebut mengulang sekolah hingga 3 tahun pelajaran. Pastilah anggapan anak itu Bodoh dan hanya membuat malu kedua orang tuanya akan di alamatkan padanya.
Setidaknya Itulah yang aku rasakan. Aku tahu benar bagaimana rasanya di kucilkan oleh lingkungan dan juga Masyarakat sekitar tempat ku tinggal. Tidak dianggap teman masa kecil dan sebagainya. Satu saja alasan semua itu. Hanya karena aku ‘Tidak lulus SMA tepat pada waktunya’.
Juni 2010
“Lebih baik gue nggak usah sekolah dari pada gue harus menanggung malu, gara – gara ngulang SMA dari kelas satu lagi. gue bisa kok Sukses tanpa sekolah. Kalau Bob Sadino aja bisa, kenapa gue nggak. Masa bodoh dengan Sekolah”
Aku bergumam, air mata mengalir deras menumpuk dikantung mata ku. Aku mengumpat di balik selimut tebal. Hari itu, Aku pun mengatakannya kepada Bapak dan Mamah secara gamblang dan apa adanya tentang apa saja yang ku lakukan selama ini. Tentang masa sekolah ku.
Ekspresi kecewa dan saling diam tampak jelas terlihat diantara Bapak dan Mamah , dari sikap diamnya mereka terlihat saling menyalahkan atas apa yang terjadi pada ku. Bapak langsung membuka pintu dan bergegas pergi dengan Vespa tuanya. Sedangkan Mamah hanya terdiam matanya berkaca – kaca seolah tak percaya dengan apa yang terjadi pada ku.
Satu setengah tahun yang lalu, tahun ajaran baru yang tak pernah terlupakan. Pada malam itu Aku harus menerima dengan lapang dada konsekuensi atas tingkah laku bodoh ku di SMK. Akhirnya kedua orang tua ku tahu kalau selama satu tahun ini aku tidak pernah lagi datang ke Sekolah.
Sudah lama sekali rasanya aku ingin berkata jujur pada Bapak dan Mamah, bahwa aku sangat tidak betah di SMK. Meski awalnya masuk ke SMK adalah keinginan ku. Aku selalu berusaha mencoba untuk berterus terang.
Satu tahun yang lalu jauh sebelum mereka mengetahui kasus ini aku sempat Meminta kepada Bapak dan Mamah bahwa aku ingin pindah saja ke SMA, karena menurutku SMK tidaklah cocok dengan ku yang tidak menggemari kerja lapangan.
Tapi sayangnya, mereka selalu berpikir bahwa aku pasti akan bisa terbiasa dengan keadaan Kelas, Tapi kenyataanya tidak semudah yang mereka pikirkan, aku sulit untuk terbiasa menghadapi situasi tidak menyenangkan. Jika aku tidak bisa mengendalikan diriku aku bisa saja membuat keributan.
Jika sebuah ungkapan mengatakan “Siapa yang mampu menyesuaikan diri maka ialah akan menang”, aku sadar,ungkapan tersebut tidak berlaku untuk ku yang sudah kalah untuk menembus atmosfer kelas yang tidak menyenangkan. Aku terlempar jauh dari lingkungan kelas karena tidak bisa menyesuaikan diri.
Banyak hal yang membuat ku tidak nyaman untuk pergi ke sekolah, bukan saja karena jaraknya yang jauh dari rumah. Atmosfer kelas yang dipenuhi ababil bermulut besar adalah hal paling yang sangat aku benci. Suasana seperti ini sangat tidak sesuai dengan karakteristik ku yang tidak banyak bicara. Guyonan – guyonan yang empuk dan menyakitkan di telinga membuat ku ingin melempari siapa pun dengan amarah yang keji.
“Masa remaja cenderung menyibukan diri dan mencari perhatian diluar lingkungannya yang seharusnya, itu wajar. Karena masa remaja, adalah masa – masa yang sangat membutuhkan perhatian dari orang tua”
Tayusani Yuza
Juli 2008
Sungguh berada di kelas dengan ras dan kelamin yang sama itu sangat membosankan, sejauh mata memandang hanya wajah kotor yang ku lihat. Tidak ada sosok bening seorang wanita disana yang bisa menjadi pendamai. Kelas ini sembilan puluh sembilan persen seluruhnya adalah laki – laki, sebagai remaja wajar jika aku merasa ada sesuatu yang kurang.
Bagi para mulut besar, orang pendiam adalah mangsa yang empuk untuk di jadikan guyonan, padahal aku sama sekali tidak menyukai guyonan yang berlebihan. Mulut mereka jauh lebih menusuk dari duri bulu babi yang terbawa arus ombak.
Pemojokan terhadap ku dilakukan dengan cara berjamaah, candaan diluar batas menyakitkan untuk di dengar, aku mengernyit mengepal tangan di bangku paling depan. Rasanya tepat jika aku selama ini aku tidak betah berlama – lama di kelas. Selain suasana yang kurang menyenangkan, tidak adanya teman yang bisa di ajak berbicara juga adalah penyebabnya. Teman ku mengobrol hanya ponsel jadul ku di kelas. sesekali membalas pesan singkat dengan seseorang yang selama ini ku anggap lebih dari seorang kekasih. Segala macam ekspresi dan amarah ku rasanya bisa memudar begitu saja saat berada di dekatnya.
Game Online
Sejak SMP aku sangat suka bermain game online, bahkan aku tercatat pernah alpa sebanyak 21 hari menjelang detik – detik terakhir Ujian Nasional.
Dan kini keburukan tersebut kembali terulang, aku mulai kembali memilih game online sebagai tempat mencurahkan amarah ku. Aku cukup sering menerima candaan sampah.
Aku mulai menggila, Di mulai dari bermain gitar, mencoret – coret meja dengan tipe –X, melempar batu sejauh mungkin dan yang terakhir adalah menyuruh pacar ku yang jago Yudo untuk membanting ku sesukanya. Namun semuanya tak berguna, aku tetap saja marah dan dendam pada para mulut sampah.
Aku memohon kepada gadis itu agar bisa membanting ku dengan jurus Yudo andalannya. Tapi Semuanya terlihat tidak berguna, bahkan gadis tomboy yang pintar bela diri pun tidak tega melakukannya. Nita Anatami namanya, selama ini ialah orang ku jadikan tempat ku bersandar jika suasana di rumah kurang baik.
Up To High School, Juli 2008
Saat aku lulus SMP aku hanya bisa menahan napas sesak, kesulitan mencari SMK Negeri yang bagus di kota ku. Nilai kelulusan ku sangat busuk, dan sejak saat itulah aku bertekad akan berhenti bermain game online. Hal yang membuat kesal adalah ketika aku sudah merelakan kepala ku di gunduli, push up, nyanyi Satu Nusa Satu Bangsa sekeras – kerasnya dengan telanjang dada depan para gadis yang juga mendaftar di SMK Negeri tersebut, dan segala macam syarat pendaftaran yang menurut ku terlalu gila terpaksa aku penuhi. Meski akhirnya surat cinta berisi “Maaf anda gagal diterima disini” membuat ku tersenyum tragis.
Aku pun masuk sebuah STM Swasta di kota Serang, aku memilih untuk tidak mengikuti Mos daripada harus mengikuti segala kegiatan bodoh. Guru - guru disana sangat ramah. Namun, aku tidak begitu menyukai gaya candaan orang dikelas ku. Baru saja masuk aku sudah dibuat tidak betah dengan ejekan - ejekan sampah. Aku seperti kancil di tengah godaan serigala, berlama - lama dikelas sama halnya membebani diri dengan tekanan batin. Aku pun lebih banyak keluar kelas saat jam istirahat atau pun Mushola.Aku sangat bingung dengan sistem pengajaran di STM, ruangannya sangat banyak sehingga setiap pelajaran punya ruangannya tersendiri.
Agustus
2008
Hari pertama membolos
Tapi kini keadaan sudah berbeda, motivasi ku untuk berhenti melakukan hal bodoh hancur begitu saja. Amarah dan dendam memaksa ku kembali untuk menjadi gamers, Jabatan idiot saat aku duduk di bangku SMP. Akhirnya dengan segala kebodohan ku, aku pun kembali masuk ke dalam keburukan lama ku. Yaitu untuk pertama kalinya membolos satu hari di warnet di bangku SMA. Aku cukup senang, karena aku dapat Mengekspresikan kemarahan ku lewat game online, karena game online bisa membuat ku lupa dengan segalanya, lupa akan masalah sekolah, lupa akan isi otak ku yang kacau sayangnya lupa juga lupa dengan kesehatan ku sendiri. Aku tergolong sangat over dalam bermain game online, karena sampai menginap di warnet. Bodoh sekali kawan, aku puas hanya karena bisa membunuh orang sebanyak mungkin di dalam game online. Membunuh yang tentu saja sangat dilarang di dunia nyata.
Sepuluh jam di depan komputer adalah waktu minimal yang ku butuhkan untuk melenyapkan dendam ku, and than i be relief.. Namun sayangnya niat satu hari membolos malah kebablasan hingga satu minggu. Dan hari ini aku pun berktekad tidak ingin lagi dendam pada siapa pun.
NEW BAD FRIEND AGUSTUS 2008
Di Bus ¾ yang bentuknya seperti kardus bekas raksasa aku bertemu seorang pelajar yang sangat urakan. Ia jauh lebih santai dari mereka yang sering menghina ku dikelas.Apakah mulut – mulut sampah itu masih senang menghina ku?, itulah yang terus – menerus aku pikirkan.
Tidak lama berselang, Pelajar urakan tersebut pun duduk di sebelah ku. Mulutnya berasap, di kantung saku depannya terselip dua batang rokok
“Smoke ?,” katanya menawari ku rokok kretek.
“Nggak bro silahkan aja” kata ku menolak dengan sesantai mungkin.
“Haha, Anak STM kaga ngerokok?” katanya agak menyindir.”Apa kata dunia”
“Nggak bro lagi males ngerokok aje” balas ku santai.
“ Oh, pantes Muke lu kecut bro haha” katanya sambil menyalakan korek gas. “ Anak STM kaga ngerokok Masuk SMEA aja Brow,” katanya sedikit mengguyon namun tidak sampai hati aku sudah memakluminya. Sampai pada akhirnya ia memilih untuk tidak jadi merokok, setelah melihat sikap ku yang tidak santai.
“ Santai aja bro, lu sekolah di STM yang ono ya?” katanya dengan rambut yang ingin menyolok mata ku.
“iye”
“ Betah nggak lu?, ah kayaknya kalo gue liat dari muke lu sih, lu sering jadi kambing congek ya di kelas” sindir Pelajar Urakan tersebut, asal ceplos namun akurasinya tepat.
“Iye, lumayan, dari SMP gue anaknya pendiem bro” kata ku tidak sengaja membuka diri.
“HAHA, jadi laki harus tegas bro, jangan mau diledekin, ada yang bacot tampol aje jangan banyak omong” katanya
“Haha, nggak bro, gue pendendam tapi nggak tegaan orangnya”
“hahah, udah keliatan brow”..
Semakin lama obrolan kami semakin nyambung. Anak urakan itu namanya Ibenk. Hari itu aku sangat malas untuk datang ke sekolah. Aku takut dendam ku yang sudah padam kembali memanas, dimana jika sudah terbakar dendam aku harus membolos satu hari lagi di Warnet untuk mendinginkannya, aku sangat jauh dari Agama. Aku sepertinya merasakan Benar adanya, jika sebuah ungkapan mengatakan pepatah Nabi mengatakan, Lidah lebih tajam dari pedang bermata dua, berhati – hatilah dalam menggunakannya. Dan Hari itu aku merasakan benar bagaimana rasanya bagaimana tajamnya lidah yang disalah gunakan itu. Di kelas tepat seperti yang dikatakan Ibenk, aku kembali menjadi “kambing Congek”. Bensin yang sebelumnya terasa dingin, kini tersulut dan menyala. Amarah ku kembali berkobar, aku sangat amat dendam pada mereka yang sudah menghina. Bagi mereka apa yang mereka ucapkan adalah Candaan, tapi bagi ku itu adalah awal dari permusuhan.
“Jadilah seperti bunglon yang bisa berubah warna sesuai dengan tempatnya berdiri. Jangan seperti air yang mudah keruh saat bercampur dengan air yang kotor” – Salah satu Kalimat motivasi yang sering dikirim Nita. Jauh sebelum Twitter populer.
***
-Aku pun jadi anak yang cenderung memilih untuk bergaul dengan teman diluar lingkungan sekolah. Dan kecenderungan tersebut jugalah yang membawa ku masuk ke dalam pergaulan yang salah. Hingga Rokok, minuman keras, Video porno, membolos dan tawuran menjadi kebiasaan dan jadi sebuah tontonan yang biasa untuk dilihat setiap harinya. Aku berada dilingkungan yang ‘mengajak’ untuk membolos sekolah. Aku merasa bodoh karena memilih hal tersebut. Karena Di satu sisi saat itu aku merasa sangat nyaman berkumpul bersama geng pembolos. Karena mereka jauh lebih bisa menghargai ku. Di bandingkan ketika aku berada di kelas. Dimana Aku hanya akan menjadi bahan cemoohan. Ejekan bahkan candaan diluar batas.-
Esok hari, aku kembali bertemu dengan Ibenk. Iseng kami pun menyapa dan bercakap – cakap, sampai akhirnya karena sudah merasa akbran Aku pun menceritakan “Kambing Congek” kemarin.
“Lu mau ikut gue nggak, gue punya tempat yang asik buat orang terbuang kayak loe bro?” Ibenk mengajak ku ke tempat biasa ia membolos. Aku yang tidak tahu pun ikut dengannya.
Dan sampailah aku, Tempat yang cukup asik, berada di pelosok perdesaan. Di sekelilingnya hanya sawah, tempat yang sangat aman untuk digunakan membolos. Berada letaknya di salah satu pelosok Kampung dan jarang dilewati orang hanya sesekali petani dengan kerbaunya. Pengalaman tertangkap Razia oleh dinas pendidikan kabupaten serang membuat Ibenk dan teman – temannya semakin kreatif dalam memilih tempat membolos. Awalnya mereka membolos dipinggir jalan, tapi kini pengalaman malah membuat mereka membolos semakin menjadi - jadi.
Akhirnya terpilihlah teman tersebut. Segerombolan Genk pembolos yang juga menaruh minat pada ku. Dan yang terpenting bagi saat itu adalah mereka lebih bisa menjaga ucapanya. Mereka pandai menjaga perasaan orang lain dengan lidahnya. Setidaknya itulah yang aku pikirkan.
Namun sayang, saat ku melihat sosok – sosoknya, aku seperti ragu tak ragu untuk bergaul dengan mereka. Aku menelan ludah, Tingkah laku mereka tidak beradap sebagai seorang pelajar. Rokok tidak pernah lepas dari jarinya, tas yang dijinjingnya hanya berisi minuman keras, terkadang membawa jeruji motor kalau – kalau sahabat mereka diserang oleh orang lain. Motor yang mereka bawa semuanya bolong, tidak ada STNK atau apa pun.
Aku pun menjadi pembolos nomor wahid di kelas. Alpha ku juga paling banyak di kelas. Dan parahnya lagi aku mulai kecanduan Rokok, padahal selama ini aku sangat tegas dalam menolak asap rokok. Aku pun cukup sering ikut - ikutan minum, meski hanya sekedar nimbrung. Melihat pelajar sekolah lain di keroyok ramai - ramai kini sudah jadi pemandangan yang biasa, meski rasa ngeri muncul di benak ku yang hanya sebagai penonton.
Dibandingkan dengan teman – teman ku di kelas, mereka justru lebih bisa menghargai keberadaan ku. Tidak seperti di Sekolah, dimana aku hanya bisa menjadi pendengar tanpa mampu mengeskpresikan kemarahan ku sedikit pun. Mereka bisa menjaga pertemanan dan sekecil mungkin tidak pernah menyinggung siapa pun, meskipun kelakuan mereka jauh lebih tidak beradap.
….
September 2008
Hari ini setelah 2 Minggu membolos bersama Geng Ibenk aku pun kembali masuk Sekolah. Ah, baru melangkah saja aku sudah di soraki ramai - ramai, mata ku memerah dan kepalan tangan bergerak sesuka hatinya. Kursi yang aku duduki semakin lama semakin panas. Headset di telinga ku tidak bisa menutup berisiknya guyonan mereka. Aku pun tanpa basa – basi langsung meminta surat izin dengan alasan perut mual.
Terkadang ku sangat cuek, tapi tetap saja terlalu lama menahan ejekan sampah membuat hati seperti terbakar. Nyatanya sifat ku yang sangat mudah tersinggung tidak bisa mentolerin apa pun. Bahkan kobaran api kata – kata bijak yang Nita kirim pun bisa padam dibuatnya.
Singkat cerita. Aku pun memutuskan untuk menjauhkan diri dari tempat Ibenk dan teman – temannya membolos. Satu semester sudah aku membolos. Berbagai macam hal gila sudah ku lakukan hanya sekedar mengetuk pintu hati Bapak dan Mamah agar aku bisa sesegera mungkin di pindahkan dari SMK tempat ku bersekolah.
Salah satu Kegilaan ku,November 2008
Belum 1 semester rasanya aku menjabat sebagai pelajar SMA, tapi kasus dan kasus sudah datang silih berganti.
Di mulai dari kabur dari ke Jakarta, dimana saat di Jakarta Pusat aku nyaris di bawa Kakek – kakek homo pada tahun November 2009. Untung saja saat itu ada Iboy dan Acong anak setempat datang menghampiri ku yang berbaring di Gelanggang Olahraga, dimana daerah tersebut kerap di jadikan sasaran Razia sungguh pemandangan disana sangat tidak pantas, muda mudi tidak ragu untuk saling memasukan tangan ke dalam baju masing – masing.
Dan di Jakpus ada sebuah band yang cukup disegani di kawasan senen tersebut, yaitu The Koesno. Aku bersyukur diberi kesempatan menginap 1 malam di rumah Agga yang juga Vocalis dari The Koesno, meskipun paginya aku memutuskan untuk ke pergi ke Sukabumi, ke kampung halaman Nenek ku. Dan alasan klasik lainnnya adalah (aku belum pernah naik kereta) sehingga hari itu pun aku memuaskan diri untuk naik kereta, melihat tingginya monas dan hari itu aku merasa ini adalah pertualangan terhebat ku.
Angga, Roni dan Mul pun mengantarkan ku ke stasiun kereta mangga besar, hari itu adalah untuk pertama kalinya aku naik Bajaj, dari jauh mereka melambai baik pada ku, pesan mereka yang selalu aku ingat “Jangan lupa kalau suatu saat ke Jakarta lagi, inget aja Senen, Aye pasti ada buat lu Za” ( Thx to The Koesno Family : Angga, Roni, Mul Jadul, Iboy, Acong dll)

The Koesno Dari kiri (Vo) Agga dan (Keyboard) Roni
“Tanpa kalian mungkin gue udah dibawa kakek - kakek homo”
Desember 2008
Akupun akhirnya kembali masuk sekolah setelah dibujuk Ibu ku. Bu Ulfa, guru Bk ku di Sekolah sangat ramah, aku pun sempat ingin menangis saat menceritakan hal tersebut. Ia pun bercerita Ibu ku datang dan menangis saat di Sekolah saat aku pergi. Namun aku tetap tidak bisa mendapatkan pokok masalah tersebut. Yaitu keinginan ku untuk pindah ke SMA tidak dikunjung di berikan. Aku sadar, keluarga ku sangat pas - pasan, tapi aku tidak bisa berlama - lama di jadikan bahan cemoohan.
“Janji ? Ingat yah Dik, Karena apa?” Kata Bu Ulfa ” karena Kepercayaan itu mahal harganya?“ lanjutnya, setiadknya itulah kata - kata yang aku dengar dari Bu Ulfa. Namun hal tersebut tidak bisa membuat ku berhenti untuk membolos. Gerombolan Geng Ibenk sering melintas di depan Sekolah ku. Aku tidak berani sedikit pun menceritakan hal tersebut pada pihak Sekolah ku. Ancamannya sangat serius bagi ku.
Sesungguhnya aku sangat lega karena bisa kembali berada di sekolah, ingin rasanya aku memeluk satu persatu guru ku yang mencium tangan dan mengepal ilmu yang mereka bawa. Setiap pagi para guru berjejer di depan Kantor dan mereka diberi arah dan doa bersama sebelum belajar. Sungguh hanya di sekolah inilah Aku melihat guru mengajar dengan kompeten. Mereka bukan hanya kompeten tapi bagi mereka mengajar adalah jihat.
Januari 2009
Hampir 7 bulan berselang, aku sudah benar – benar sukses memisahkan diri dari geng Ibenk dkk. Akhir cerita kehidupan ku bersama Genk tersebut sangat kacau, aku yang biasanya ikut memalak kini malah sering sekali dipalak, bahkan mereka tak segan – segan menunggu di depan gerbang sekolah ku, saat aku ingin mencoba datang ke sekolah. Aku bahkan pernah dikejar - kejar tapi syukurlah aku lari pada tempat yang tepat, yaitu lari ke arah polisi yang sedang merazia helm yang saat itu sedang gencarnya dilakukan polisi kota serang.
Fatal sekali, hal itu baru bisa aku lakukan setelah aku menjadi pembolos nomor wahid di kelas dan untuk kali ini tidak ada yang bisa menandingi ku. Ya, meski aku merasa baru membolos 7 bulan tapi nyatanya tercatat sudah Alpha lebih dari 9 bulan. Jika di ibaratkan Bayi, maka saat itu aku sudah terlahir menjadi seorang Bayi bersih yang telah menuntaskan perjuangannya dalam bersaing dengan jutaan sel sperma.
Sudah banyak cara aku gunakan untuk datang ke Sekolah, namun Ibenk selalu menyuruh teman - temannya menyebar di persimpangan jalanan biasa aku lewat. Ingin sekali rasanya aku meminta tolong pada para kakak - kakak kelas ku. Namun aku tidak sedikit pun mengenal.
Februari 2009, Aku kembali membolos

Di Cilegon ada sebuah warnet sebut saja Relic. Berbulan – bulan sudah aku membolos disana. Aku sangat jenuh dan dirundung rasa kekhawatiran mendalam.
Aku sudah merasa putus asa. Aku memandang semuanya menjadi ‘impossible’. Aku merasa tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke Sekolah. Satu Semester lebih aku membolos. Dan tiga bulan lagi akan ada kenaikan kelas. Tentu saja aku akan sangat tertinggal dalam nilai, Aku pun membayangkan aku pasti akan mendapatkan ejekan yang lebih sadis lagi dari sebelumnya. Setelah aku mendapat peringkat pembolos nomor wahid ini.
“Gue udah terlambat !” gumam ku saat itu berdiri di gerbang Sekolah. Memandang iri mereka - mereka yang sebaya dengan ku. Yang dengan semangatnya mengerjakan tugas, mengisi soal - soal yang sulit, bercanda dengan orang seorang sahabat. Dan aku sangat merindukan kesibukan tersebut. Aku merasa ada sesuatu yang hilang yang sepertinya telah lama memudar di dalam hidup ku. Aku merasa berada jauh di luar jalur yang seharusnya. Aku terlambat dan sudah sangat terlambat untuk kembali ke sekolah, saat itu umur ku 16tahun. Aku masih sangat labil, rasa takut sangat mudah menghantui. Hingga akhirnya pilihan yang salah pun aku pilih. Aku memutuskan untuk pergi dan memilih tidak akan datang lagi datang ke SMK tercinta ku tersebut. Aku bertekad tidak akan sekolah lagi sebelum kedua orang tua ku benar - benar memindahkan ku ke SMA. Dan saat itu aku berharap bisa berada satu Sekolah dengan Nita.
Akankah aku akan menjadi pelajar paling idiot sepanjang sejarah ? 3 bulan lagi sudah memasuki tahun ajaran baru, dan aku masih sangat takut untuk kembali ke sekolah hingga Ide untuk kembali kabur dari Rumah kembali terlintas, hanya saja kali ini aku sudah mempersiapkan segala macam konsekuensinya.
Inilah daftar kebodohan itu.
1.Aku siap mengamen jika uang ku habis.
2.Aku siap mencuci piring di warteg jika nanti aku sangat kelaparan dan bertekad akan sukses ala bob sadino.
3.Aku akan bermalam di masjid, tapi jika tidak ada Masjid yang mau menerima ku, aku akan kembali datang ke daerah senen.
Namun semuanya tinggal rencana, Aku pun berfikir untuk mencari uang sendiri.Setidaknya aku tidak malakukan hal yang sia - sia saat membolos sekolah. Berbagai macam cara menghasilkan uang aku coba untuk mempersiapkan rencana bodoh ku tersebut, seperti menjadi operator warnet yang tak lama kemudian tutup, mencoba bisnis online seperti PTC, di ajak teman bergabung dalam bisnis MLM di usia 17 tahun, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menulis blog, dunia yang sudah aku tinggalkan saat duduk di kelas tiga SMP dulu. Aku menangis bukan buatan ketika menulis hal tersebut. Bahkan Nita pun sempat merasa jika selama ini ia sudah jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi ia tetap mendukung ku. Ia tetap memotivasi ku “lo berbakat jadi penulis, Dyk”
Aku kecewa pada diri ku sendiri, yang sudah memilih membolos sekolah bersama para pecundang, dimana mereka lebih memetingkan minuman keras, rokok dan juga tawuran daripada datang mengisi jam sekolah. -Tayusani Yuza-
Seragam Sekolah selalu aku tutup dengan Kemeja hitam. Aku tidak ingin menunjukan identitas sekolah ku saat membolos. Aku bahkan sangat panik saat seseorang bertanya “De, sekolah dimana?” terlebih lagi saat mereka melihat dengan penuh takjub logo jurusan listrik di samping kiri seragam ku. Aku tahu benar, mereka sangat bangga melihat remaja seusiaku sudah bergelut dalam bidang kelistrikan. Namun hati ku seperti di hantam palu godam yang tumpul. Aku hanya bisa menangisi keadaan. Di dalam hatiku aku selalu menyesal tidak pernah datang ke Sekolah. Hingga aku tidak mengerti apa pun tentang listrik. Aku hanya menumpang nama disana. Tapi tidak dengan ilmunya.

JULI 2009 DISSAPOINTED
Kenaikan kelas sudah berlalu, aku kini sudah menginjak kelas dua, aku naik bersyarat. Namun dikelas dua aku kembali membolos karena tekad ku untuk pindah ke SMA jauh lebih besar daripada meneruskan di SMK. Ayah dan Ibu ku tidak cenderung peka terhadap apa keinginan ku. Mereka bertanya bagaimana dengan keadaan Sekolah ku dengan cara mereka bertanya agak sedikit membentak, dan itu sangat menakutkan bagi ku. Semenjak bergaul dengan Geng Ibenk entah mengapa aku jadi paling takut di bentak - bentak.
Hal yang sering menjadi sesuatu yang tidak nyaman untuk dilihat. Yaitu Ketika Warnet khusus Game online tempat ku biasa membolos, semuanya terheran - heran melihat sosok remaja kurus berseragam SMK membawa buku - buku motivasi MLM di warnet dan mengetiknya di blog.
Aku yang sangat merindukan masa sekolah, sibuk menulis cerita tentang masalah sekolah ku di tengah suara gemuruh soundsystem game online. Warnet tempat ku sering membolos sangat berisik ,belum lagi kata - kata binatang yang keluar dari mulut gamers juga sangat tidak nyaman di telinga. Telinga ku bisa saja menjadi tuli.Lama berada disana.
Aku sering sekali di caci maki dengan kata - kata binatang. Aku tahu benar kemana ucapan itu beralamat. Meski mereka tidak menyebut nama orangnya secara langsung. Wajar sih, Aku melakukan browsing dan download secara besar - besaran di warnet khusus game online tersebut, yang notabennya tidak diperbolehkan untuk browsing. Suasana di dalam sangat panas, asap rokok bertebaran dimana - mana. Paru - paru basah mudah datang dan hinggap bagi siapa pun.
Setiap harinya aku biasa menghabiskan waktu sebanyak 10 jam untuk membolos, namun aku terus melakukan perubahan dengan mengurangi waktu membolos jadi 5 jam, itu pun aku buat sejarang mungkin, karena terkadang sosok yang tidak diharapakan kerap kali mengintip ke dalam. Saat itu aku sedang sibuk mendesain blogspot.
“WOY A***G NGELEK AMAT SIH, EH BOCAH YANG PAKE BAJU SMA, JANGAN BROWSING NGELAG “ . Ucapan seperti itu sudah menjadi tabu di telinga ku. Aku sudah biasa ucapan sampah seperti itu tidak akan bisa lagi mempengaruhi konsentrasi ku untuk menulis. Rasa rindu ku akan masa Sekolah nyatanya lebih kuat dari pada suasana warnet game online yang berisik.

Game online kini berdampak buruk pada kehidupan ku di Sekolah. Ku menjadi lemah dalam bergaul dan sulit untuk mencairkan diri dengan atmosfer kelas yang tidak sesuai dengan harapan. Game Online juga sukses membuat ku menjadi pribadi yang mudah tersinggung dan tidak menyukai gaya candaan seperti apa pun. ku pasti akan merasa terpojok dan dikucilkan, jika mendapat cemooh oleh orang lain.
Aku mungkin bisa bernapas lega karena akhirnya aku menemukan cara yang tepat untuk mengekspresikan rasa kecewa, rasa iriku dan semua hal negatif tentang masa depan ku yang sudah ku anggap gagal. Aku lebih banyak curhat di wrnet dengan menulis blog, dan sangat sering membuat catatan di facebook.
(ngelag, dibaca “ngelek” istilah koneksi macet saat main game online)
Love

Mungkin terlihat buram, tapi cuma ini foto jadul satu - satunya foto yang aku punya tentang Nita. Karena di scan secara manual.
Sejak tadi aku sering sekali menyebut nama Nita. Nita adalah seseorang yang ku anggap lebih dari sekedar pacar. Kami sudah berhubungan lebih dari 5 tahun.Nita jugalah orang yang selama ini selalu mengirimi ku kata - kata motivasi, ia jugalah yang gadis berhasil menjemput ku untuk keluar saat ku sedang membolos dengan gerombolan Ibenk. Ia jugalah sosok yang tidak diharapkan itu, yang sering mengintip ku yang suka membolos di warnet. Ia selalu menempatkan diri sebagai seorang kakak dihadapakan ku.
Ia tidak pernah takut pada apa pun. Meski terlihat feminim tapi sebenarnya Sifat tomboynya jauh lebih berani dari laki - laki. Sampai - sampai ia tidak ragu untuk mempraktekan ilmu karate turun - terumunnya di depan mata ku, secara langsung saat menghajar gerombolan Geng Ibenk.
Kami dan Nita sebelumnya sudah memiliki rencana besar. Ya, Rencana besar kami adalah melanjutkan kuliah di Jepang setelah lulus SMA nanti. Nita memang keturunan Jepang. Dan Ayahnya pun asli orang Jepang dan kebetulan punya koneksi terselubung dengan orang - orang penting. Dimana kami bisa masuk ke Universitas terkemuka di Jepang tanpa susah payah. Hanya dengan syarat kami harus fasih berbahasa Jepang. Nita sangat pandai menulis dan berbahasa Jepang, tapi aku?, hampir setiap hari waktu membolos aku gunakan untuk belajar bahasa Jepang bersamanya, namun aku menyerah.
Aku menyadarinya bahwa juga sudah terlambat untuk ikut bersamanya ke Jepang. Aku terlambat untuk sadar, bahwa Aku sudah mengecewakan banyak orang.
Nita yang sudah tahu luar dalam akan masalah sekolah ku. Dia pun tidak dapat berjanji lagi, aku sudah sia - siakan kepercayaan itu.
Nita pun akhirnya pergi ke Jepang bersama Ayahnya dan sepertinya sudah tidak bisa lagi menunggu ku, percayalah menunggu waktu 3 tahun untuk Pelajar gagal yang tidak menghargai kesempatan untuk bersekolah adalah hal terbodoh.
Aku yang akhirnya mengtahui kabar tersebut dari Nita sendiri. Pada hari itu juga langsung menyusulnya ke Bandara Soekarno Hatta dan Rela membayar Taxi hingga 200 ribu, hanya untuk memberikan salam perpisahan padanya yang selama ini sudah memberikan berbagai macam motivasi agar aku berani untuk kembali ke Sekolah.
Aku sangatlah pengecut, aku takut untuk berterus terang pada kedua orang tua ku. Impian kami untuk mengejar mimpi ke Jepang harus pupus. Ayah Nita pun mengetahui kasus membolos ku. Aku hanya bisa terdiam saat Ayahnya menyobek kertas sertifikat rekomendasi, atas nama diriku di depan mata ku. Nita langsung pergi melangkah cepat dengan air mata yang berlinang deras.
Aku tertunduk lesu. Nama ku kini sudah lenyap sebagai siswa yang akan melanjutkan pendidikan jurusan sastra Jepang ke Negeri Sakura. AKu bukan saja kehilangan masa depan yang indah, tapi juga harus berpisah dalam waktu yang cukup lama dan tidak bisa ditentukan.
Mereka Tahu
Mei 2010
Tayuza.tk, Domain blog lama ku yang kini di hack begitu saja oleh orang bule. Untungnya, aku sempat memindahan semua postingan ku ke dalam flashdisk.
Hingga menjelang kenaikan kelas tiga semuanya tidak berubah. Orang tua ku akhirnya tahu akan kenakalan ku tersebut 2 tahun kemudian tepat saat aku ingin naik ke kelas 3. Kakak ku datang ke Sekolah dan langsung mencari tahu rasa curiganya. Kakak ku memang punya rasa curiga yang tinggi terhadap ku. Dan wali kelas ku pun langsung menceritakannya. Dan sesampainya di Rumah kakak ku langsung menceritakan hal tersebut. Wajah Shock tampak di wajahnya. Aku langsung merengut dan masuk ke kamar ku yang sempit.
555 hari sudah aku mengitung hari demi hari waktu yang aku gunakan untuk menghindar dari Sekolah. Tidak ku sangka, rasa benci ku akan orang - orang bermulut sampah pada akhirnya membuat ku menjadi orang yang sehina ini. Geng Ibenk membuat ku menjadi orang serendah ini.
Kedua orang tua ku pun akhirnya memindahkan ku ke SMA Negeri, dan di SMA aku harus menelan pil pahit dengan duduk di kelas 10 lagi. Padahal seharusnya aku sudah duduk di kelas 12. Lebih menyakitkan lagi ketika Adik kelas ku kini menjadi satu kelas dengan ku. Dan itu di perparah saat Melihat teman - teman seangkatan ku kini menjadi kakak kelas. Aku memendam rasa kecewa yang amat besar pada diriku sendiri. Akhirnya aku hanya bisa menangis di dalam hati saat melihat mereka semua lulus SMA. Jauh meninggalkan ku yang justru kembali duduk di kelas 10.
31 Desember 2011
Sudah 2 tahun aku lost contact dengan Nita dan Ayahnya. Terlebih lagi setelah Jepang dilanda gempa dan nuklir, aku menjadi sangat panik dan cukup sering mengirim E-Mail kepada Nita. Namun tak kunjung dibalas.
Sudah Dua tahun berlalu, kini aku sudah menginjak kelas 11 di tahun 2012. Aku memutuskan masuk jurusan IPA. SMA tempat dimana ku mengulang Sekolah baru saja berdiri sekitar 5 tahun yang lalu. Wajar, jika terkadang aku agak sedikit kecewa dengan fasilitasnya. Namun aku berharap disini aku bisa berprestasi. Karena Seumur hidup ku aku tidak pernah mendapatkan prestasi apa pun yang bisa membuat bangga kedua orang tua ku.
Aku cukup sering mendapatkan kepercayaan, namun sering pula aku mengkhianati kepercayaan tersebut. Di sekolah ini aku ingin menunjukan pada semua orang. Aku bukanlah menjadi Dyk atau Yuza yang hanya bisa Diam menghadapi kenyataan yang tidak sejalan dengan harapan. Aku menyesal sudah mengenal Minuman keras, aku menyesal sudah mengenal asap rokok dan aku juga menyesal sudah memilih bergabung dengan Geng Ibenk daripada datang ke Sekolah. Dan aku menyesal sudah mengenal Game Online. Meski nyatanya game online pulalah yang mengenali ku pada dunia blog.
Well, inilah teman - teman baru ku di SMA. Mereka semua seharusnya adik kelas ku saat ini. Tapi aku sudah tidak lagi mempersoalkan masa lalu ku. Mereka nyatanya sangat setia kawan dan sangat menghormati ku sebagai siswa dengan umur tertua di Sekolah ku. Mereka menerima ku dengan apa adanya. Mereka bisa menjaga perasaan dan perkataan seperti Geng Ibenk, namun jauh lebih freindly dibandingkan dengan teman - teman ku di SMK dulu.
L TO R :
Atas
Elfas, Nadia, Mala, Elfan, Siffa, Ryan,Nc, Yudha, Suswati dan Benfice.
Tengah
Fanesha & Tanti
Renald, Fajar, Tayusani Yuza, ,Aqmarina, Ami dan Celbie
Terima kasih buat yang sudah baca sampai sejauh ini. Jujur gue nggak peduli kok jika ada yang berkomentar kalau tulisan gue ini terlalu panjang. Jujur, gue menulis ini hanya untuk mengekspresikan hal yang selama ini gue tutup - tutupi. Dan kisah ini akan gue bagi dengan mereka semua teman - teman baru baru gue tersebut. Sebagai ucapan terima kasih gue atas suasana Sekolah sudah mereka buat. Susana Sekolah yang nggak gue dapat seperti saat gue di SMK dulu.



Dan kini aku berusaha untuk menganggap setiap tindakan adalah prestasi. Tadinya aku ragu untuk menulis kisah broken school ku ini ke blog ku, Terlebih lagi di Blogdetik, Apa pun hal yang kita tulis bisa terekspose dengan mudahnya karena bisa terbaca oleh puluhan ribu orang setiap harinya. Tapi whateverlah. Yang aku cari kini hanyalah prestasi.
Untuk ke depannya Aku berniat ingin menjadikan kisah masa sekolah ku ini ke dalam sebuah novel. Namun, untuk kali ini aku tidak bisa berbuat lebih.
Kini aku belajar untuk tidak menjadi orang yang hanya berdiam diri. kini aku akan lebih banyak bekspresikan lewat twitter @TentangGueitu dan juga blog. Aku sepertinya akan mencontoh langkah dblogger senior Teh Anny berta yang sudah menerbitkan buku lewat blog, Aku tentu berharap kelak bisa berprestasi untuk menerbitkan buku lewat blog seperti beliau. Dan berusaha mengajak teman - teman ku untuk ngeblog :)”.


























Artikel yang dibuat dari hati..
Good Luck bro,semoga menang…
[Reply]
pelajarmalas Reply:
Januari 5th, 2012 at 23:14
terim om Yos, sumpah bener2 galau nulis artikel ini T__T
[Reply]
panjang beneeeer dek..haha
ntar di baca ulang.. abis ngeliatin poto2 galaunya dulu
[Reply]
Aku salut sama Yuza yang tak pantang menyerah untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan sesuai jati diri, walau jalannya sangat berliku tajam dan penuh ranjau untuk menemukan hakikat kehidupan yang harus dijalani semestinya, seperti ingin berguna untuk diri sendiri, membahagiakan orangtua dan dihargai semua orang, tiga poin ini hal yang lumrah menjadi tujuan banyak orang.

Namun bagi Yuza, begitu banyak resiko yang berani dilakukan, hanya ingin jujur dengan hati nurani.
Aku salut bahwa Yuza mampu mempertanggung jawabkan segala resiko yang pernah dibuat dimasalalu di masa sekarang
SEMANGAT Yuza!!!! kamu pasti bisa jadi seseorang, asal berusaha terus dan Fight Never Ending
Ikut terharu bacanya
[Reply]
pelajarmalas Reply:
Januari 6th, 2012 at 11:55
semoga bisa jadi orang bener2 bisa ngebanggain orang tua
[Reply]
posting terpanjang nih kayaknya, mungkin di buat part gituh supaya lebih asyik
[Reply]
pelajarmalas Reply:
Januari 6th, 2012 at 13:03
hmm bener bro.. nanti deh gue pikirkan ^__^
[Reply]
keren sob…


mpe panas nih mataku buat baca semuanya!..
tetap semangat bro…
salam kenal antar pelajar..
[Reply]
pelajarmalas Reply:
Januari 8th, 2012 at 16:23
terharu gue klo ada yang baca T__T
[Reply]
dahsyat bro.. semoga bisa tercapai cita2nya.. pantang menyerah!!
[Reply]
pelajarmalas Reply:
Januari 9th, 2012 at 14:34
MAKASIH SOB ^,.,^ SEMOGA GUE BISA
[Reply]
salut banget sob, keep spirit
salam kenal
[Reply]
pelajarmalas Reply:
Januari 11th, 2012 at 05:24
ok salam kenal jg bro
[Reply]
buset deh..
gw bacanya sampe kebawa perasaan,,
mantep bgt cara lu membawakan cerita bro..
hebat lah,, sip !
[Reply]
Inspiratif!
Kita memang seringkali ingin menghilangkan masa lalu yang suram. Tapi bagaimanapun juga, hal tersebut tetap bagian dari perjalanan hidup yang telah membawa kita hingga ke tempat kita berdiri saat ini.
Semoga benar2 bisa dituangkan ke dalam sebuah novel ya…
Salam Kenal!
Btw, Tayusani Yuza tuh emang nama aslinya ya? Mirip nama Jepang
[Reply]
sama bro gw jga ngulang sekolah gw 3 tahun cma gara2 game OL dri game ol gw ngenal rokok mirazz dll tpi gw terimakasih ke U nih artinya gw g sendiri ^^ Thx motivasinya lu dah nyadarin gw bahwa hidup ku masih brarti Thx bro nih inspiratif banget Thx
[Reply]
keren mas bro…terimakasih sudah memberikan pelajaran berharga utk guru BK seperti saya, semoga murid2 saya menjadi seperti mas bro…amin
[Reply]
pelajarmalas Reply:
Januari 27th, 2012 at 20:09
i love guru bk
[Reply]
makasih sob udah ngasih gue penyelesaian dari semua masalahku dan gue akan coba mengaplikasaikannya dalam hidup gue
THANK YOU FOR YOU TAYUZANI YUZA
[Reply]
persetan dengan tekad lho bro bunuh diri biar lebih tenang gak ada masalah lagi ok
[Reply]
[Reply]
Pelajar Malas Yang Galau Reply:
Maret 21st, 2012 at 07:59
wah sesat wkwkw..
[Reply]
Hoo.. rupanya reaksi tiap orang memang beda .. tapi sampe bolos 555hari keren lu bro..
semoga keinginanmu tercapai bro dan bisa membanggakan orang tua
sekedar saran klo buat si nita kenapa ga tanya ibunya aj? ah. atau lebih tepatnya ga berani ya..?
[Reply]
@TentangGueItu Reply:
April 14th, 2012 at 21:04
amin
[Reply]