
Sempat aku bertanya, kenapa sih di Pandeglang, Labuan dan Gerbang - gerbang selama datang di daerah Banten pasti ada patung badak. Seragam pramuka ku saat SD dulu juga ada gambar badak di logonya. Badak, Badak dan Badak. Kenapa daerah ini tempat kelahiran ku ini selalu identik dengan badak?.
Tetapi saat itu aku ingat mendapat sebuah jawaban yang benar - benar tidak bisa dilupakan sampai sekarang.
Aku ingat dulu setiap sore akusenang sekali mengikuti ekskul pramuka. Dan karena ingin tahu soal logo badak di seragam pramuka ku. Aku pun bertanya pada Kakak kelas pembimbing pramuka ku dulu.
” Karena badak itu Istimewa !” Jawab kakak pembimbing pramuka, waktu itu aku masih menginjak kelas empat Sekolah dasar. Dan kakak itu aku ingat dia adalah siswa kelas tiga SMA. Di SMAN 1 Kramatwatu.
“Emang apa istimewanya kak?” Tanya ku ingin tahu.
“Karena mereka adalah binatang yang benar - benar legendaris, dan jadi nggak aneh kalau lambang provinsi kita adalah badak. Satwa langka yang mendapat perhatian dunia”
“Legendaris?”
“Iya, Badak jawa jumlahnya hanya ada 50 Ekor di seluruh dunia, dan tahu nggak, badak jawa adanya dimana?”
“Ya pasti di jawa dong kak” Kata teman ku, aku masih ingat sekali namanya Dede.
“Jawa mana hayo?” Tanya kakak balik kakak pembinanya.
“Ya jawa kak !, saya kan setiap tahun pasti mudik kesana kalau lebaran” Jawab lagi teman ku yang orang solo. Yang mungkin pikirnya Badak Jawa, adalah Badak yang tinggalnya di Jawa tempat biasa dia pulang kampung di solo sana.
“Badak jawa adalah di Ujung Kulon !” Seru kakak pembina.
“Kayak pernah denger kak ” Jawab ku. Aku saat itu belum tahu kalau ternyata badak Jawa itu adanya di Ujung Kulon bukan di Jawa tengah atau pun Jogjakarta.
“Badak itu ada di banten, ayo ngacung siapa yang Ibu atau Bapaknya orang labuan ?”
“Saya kak,” aku mengacungkan jari.
“Masa nggak tahu sih kalau di Ujung Kulon ada Badaknya?”
“Abis nggak pernah liat kak. Tapi saya sering lewat kok !”
“Ya karena memang badak itu hewan yang langka, maksud kamu lewat apa?”
“Lewat ujung kulon dong kak, soalnya aku kalau mudik pasti kesana pasti, aku juga sering ngelewatin jalan ke arah Ujung Kulon, emang itu tempat badak ya? ”
“haha, iya bukannya kakak udah bilang ?” tanya nya.
“Oh iya kak hehe, tapi kan aku nggak pernah liat ada Badak waktu lewat sana, paling cuma ada Patung badaknya doang kak”
“Jujur kakak juga nggak pernah liat badak jawa secara langsung. Tapi kita sebagai anak Pramuka, generasi bangsa selanjutnya . Kitalah yang selanjutnya harus bertanggung jawab menjaga kelestarian Badak Jawa.” Serunya bijak banget, padahal baru kelas tiga SMA.
“Cara ngejaganya gimana kak? kenapa nggak di taro di kandang aja Badaknya?” teman ku Uki ikut penasaran.
” Kalau di taro di kandang badaknya nggak bebas dong, caranya menjaganya untuk siswa seperti kita adalah PDKT dulu dengan badak” Entah karena masih muda atau apa. Kakak pembina itu waktu itu mengeluarkan kata - kata gaul di tengah anak - anak SD.
” PDKT itu apa? pacaran ya?” Tanya Rina.
“Wuih, pacaran sama badak haha” Sahut dede.
“Eh, bukan , bukan, PDKT itu pendekatan. Kita harus mengenal dulu badak Jawa itu seperti apa. Dimana ia tinggal dan kenapa badak itu Istimewa kita harus tahu , ngerti?”
Namun karena hari menjelang sore. Aku pun belum mendapatkan jawaban yang kurang lengkap.
Ya, Waktu SD aku bukanlah orang yang tertarik dengan binatang. Aku cukup sering mendengar kata badak, tempat bernama CiBadak di daerah Pandeglang sana. binatang Badak. Tapi bagi ku apa istimewanya badak?. Toh, di kebun binatang juga pasti ada badak. Tapi ternyata aku salah. Di Kebun binatang manapun ternyata tidak ada badak.
Aku sendiri pernah dulu memang banyak tanya, kalau tidak puas dengan jawaban dari guru di kelas aku pasti bertanya pada Ayah.
“Pak, Emang di Ujung Kulon ada badak?”
“Iya geh, badak jawa mah adanya cuma di Ujung Kulon Banten”
“Emang di kebun binatang nggak ada?”
“Ya nggak ada dong, Badak Jawa mah langka atuh”
“Kok kalau lewat Ujung Kulon kita nggak pernah liat badak Pak?”
“Iya atuh, Badak mah Hidupnya di Hutan. Nggak suka tempat yang banyak orangnya. Hidupnya juga di awasi yayasan khusus jadi nggak sembarangan bisa liatnya”
“Berarti mbah UU dulu pernah liat badak dong?” (Baca : Kakek gue seorang pensiunan tentara yang sempat pindah ke daerah labuan).
“Tanyalah sama kakek kamu”
“Gimana mau nanya, Mbah UUnya aja udah meninggal”
“Hahah”. Ayah pun tertawa dan mengacak - ngacak rambut ku.
***
“De, nih badak Jawa tuh di TV” seru Ayah ku saat itu sedang menonton Jejak petulangan tentang Ekspedisi Gunung Anak Krakatau dan Badak Jawa yang saat itu sedang tayang di TV. Aku ingat saat itu adalah TV7.
Badak Jawa adalah satu dari lima spesies badak yang masih hidup. Kehidupannya hampir sama dengan tempat tinggalnya sekarang, yaitu di Ujung tanduk. Pemburuan liar pun kadang masih terjadi, sehingga petugas kehutanan dengan perlengkapan yang seadannya harus berkeliling menyesuri bibir pantai yang tambak dan becek. Yang merupakan ciri khas perairan pantai di daerah Ujung kulon, labuan dan sekitarnya.
Di tayangan yang dibuat oleh orang asing itu. Terlihat dengan jelas bagaimana usaha - usaha yang dilakukan Yayasan WWF dengan warga sekitar sangatlah gigih. Menyusuri hutan yang becek dan berair. Membawa peralatan yang sedemikian banyaknya untuk mengupdate data - data tentang badak jawa.
Mereka memasang Camera di siang hari tentang mengikuti jejak - jejak badak sebelumnya. Dan jika sudah menemukan kubangan dan kotoran badak, mereka pun akan memasang camera yang berbentuk kotak dan jadul dan lalu mengikatnya di batang pohon.
Dan ketika di tinggal selama satu minggu tertangkaplah gambar badak itu.
“Waw” Itulah kesan yang aku tangkap.
Badak bercula satu, yang selama ini hanya aku kulihat sebagai patung di gerbang selamat datang itu kini bisa ku lihat juga bagaimana gerak - geriknya. Tingkahnya agak lamban namun tidak membosankan untuk dilihat. Tubuhnya keras seperti baja besi. Suaranya terdengar seperti tangisan yang memanggil. Mereka muncul di malam hari. Memamerkan tanduknya satu - satunya yang pesek. Para Relawan yang ikut serta dalam meneliti badak jawa terlihat senang bukan buatan. Melihat Mamalia terlangka di dunia itu muncul seolah - olah seperti bertemu kawan lama yang sudah lama sekali tidak berjumpa.

Badak Jawa itu menunjukan dirinya bahwa ia masih ada. Ah, senangnya bukan main ketika tahu Badak betina itu muncul bersama anaknya yang kecil. Ini menjadi sebuah tanda baik karena penghuni ujung kulon sudah punya satu lagi bayi badak jawa yang terkenal dan kelangkaannya tersohor ke seluruh dunia.
Ya, mungkin itulah bagaimana aku bisa tahu badak jawa. Agak konyol memang, karena aku sendiri belum pernah menginjakan kaki di Ujung Kulon padahal jaraknya dari kampung halaman Nenek ku tidaklah begitu jauh.
Badak Jawa semakin lama semakin mengkhawatirkan, ancaman bencana Tsunami dan letusan gunung anak krakatau yang bisa saja terjadi menjadi salah satu hal yang selalu dikhawatirkan. Malah sempat ada rencana untuk memindahan beberapa Badak Jawa ke daerah yang lebih aman ke tempat lain.
Jumlah Badak Jawa betina hanya tinggal 4 hingga lima ekor saja. Duh, ada lagi ancamannya. Tentunya kalau betina nya sampai mati bisa - bisa badak jawa tidak bisa lagi meregenerasi.
Jangan sampai deh, Badak Jawa sampai tewas di tangan orang - orang idiot yang ingin mengambil tanduknya hanya untuk di jadikan obat kuat tiongkok yang terkenal ngaco itu.
Semoga saja, Badak Jawa tidak mengalami pembantaian layaknya OrangUtan di Kalimatan.
Harapan ku hanya satu, semoga badak jawa bisa tetap ada dan suatu saat sebagai anak yang lahir di Banten. Aku bisa melihatnya tanpa harus dalam keadaan tinggal kerangka atau pun patung belaka. Jujur aku sudah bosan.
Semoga dimasa depan kita bisa menceritakannya kepada anak dan cucu dimasa kita di depan :). Dukung terus melestarian Badak Jawa di Ujung Kulon.
















hah ? hanya 50 ekor aja yaa….
apa kita nggak bisa mengembangbiakkan secara inseminasi buatan ?
wah, secara badak betina hanya tinggal 4 ekor, jangan sampe belum beranak mereka udah mati.
Iya, kasihan badak jawa. Populasinya semakin berkurang dari hari ke hari. Andi Kata say hello…
dari SD tau badak bercula satu dari buku ipa,
semoga tidak punah biar adik2 kita bisa mewarisi, tidak tinggal sejarah
aku akhirnya tau juga badak adanya di ujung kulon yah bkn di jawa
kasihan si badak jawa ini.
ternyata begitu alesannya