Galaunya masa muda ku

Tes Keperawanan yang rawan pelecehan ( Dilarang nyamar jadi petugas)

21 Aug 2013 - 10:00 WIB

Tes keperawanan ,dengar judulnya saja sudah aneh. Pemerintah semakin tidak ‘Jelas’ saja, setelah UAN yang 20 carut marut, kurikulum yang gonta - ganti , cerita vulgar di buku pelajaran anak SD, dan sekarang muncul lagi Tes Keperawanan. Kenapa tidak sekalian di tes saja Siswi itu sudah pernah melahirkan apa belum. Benar - benar bikin gempar para Siswi - siswi, bahkan sampai ada yang takut untuk pergi ke Sekolah. Takut jadi objek pelecehan oleh yang meriksanya. Kok bisa sih masalah ‘Privasi’ paling sensitif ini dijadikan tolak ukur moral?. Apa lagi dijadikan syarat masuk Sekolah. Terus bagaimana tuh nasib siswi yang menurut tesnya sudah tidak perawan?. Nggak boleh Sekolah?. Terus harus bagaimana? Suruh Tuhan hidupkan kembali RA kartini ?.

Ketika... Ah baca aja sendiri

Ketika… Ah baca aja sendiri

Kadang saya sendiri bertanya apa sih tujuan dari ketatnya dan banyak peraturan - peraturan yang kadang ‘Jauh’ dari bayangan kegiatan sehari - hari di Sekolah ini, toh yang paling awal dilihat itu sebenarnya Nilai raport dan juga nem kan?.

Sebenarnya jujur tes keperawanan ini saya sudah tahu banget , sudah ada sejak tahun 2008 atau mungkin sudah lebih dari itu. Waktu itu ceritanya sih saya mau ikut tes masuk STM negeri. Untuk Putra baca : wajib Digunduli, push up, lari dan sebagainya yang paling bikin nyesek adalah ‘Maaf anda tidak diterima karena Nemnya kurang’. Lah kalau memang yang dilihat itu Nemnya kenapa saya harus capek - capek nyiksa diri dan nanggung malu digunduli segala macam?. Kenapa tidak dari awal saja dilihat dulu Nemnya oh kalau kurang ya sudah tidak terima. Terus bolehlah kalau Nemnya ternyata lolos diwajibkan ikut tes selanjutnya seperti tes fisik macam di gunduli, lari - lari dengan telanjang dada dan sebagainya.

Ini sudah rela melakukan mengorbankan banyak hal istilahnya berkorban ternyata tidak diterima. Bahkan saya sendiri waktu itu baca :Pernah ribut sama yang mengukur tinggi badan saya di SMK Negeri di salah kota cilegon. Si Pengukur tinggi ini sepertinya tidak diajarkan bagaimana menggunakan mulut. Maki - maki saya pakai sebut binatang peliharaanya. Alasannya sederhana saya cuma tanya “Memang tinggi segini ( 170 cm) wajib ya untuk masuk Sekolah ini?” tanya saya memang agak kurang jelas karena artikulasi buruk “Padahal PNS yang pendek aja banyak” kata saya. Bapak itu ( dia terlihat masih 27++ bujangan lapuk sepertinya ) yang tingginya bisa jadi cuma 150 cm. Tahu - tahu maaf meng-anjing - anjingkan saya. Sampai sekarang saya tidak bisa lupa kejadian itu, dilihat pula oleh orang tua yang mengantarkan anaknya tes juga masuk SMK N tersebut.

Sialan kata saya. Yang ngukurnya aja pendek bagaimana bisa Dia melarang orang lain yang ‘bisa jadi’ sama pendeknya dengan dia, Enak saja dia tidak meloloskan Siswa yang sama pendeknya dengan dia? . Padahal saat itu pengawas tes bukan PNS yang lain bilang dengan ramah “Itu sudah peraturan”. Entah kenapa si orang itu nyolot bukan main.

Sudah hina karena tidak terima , hina pula karena malu secara tidak semua orang pede punya kepala botak pelontos bak pentol korek. Jujur saja saya sih kesal bukan main. Tapi sempat berfikir juga bagaimana dengan para siswi yang saat itu menjalani tes keperawanan. Siapa sih yang meriksa? Dokter kelaminkah? bagaimana metodenya? memasukan alat semacam tes kehamilan ke dalam rahim para siswi kah?.

Membayangkan jika maaf kelamin saya disentuh orang lain kasarnya Dilihat oleh Si pemeriksa kalau cowok misalnya, di tes masih perjaka apa belum. Ah, Saya sih mending pindah ke timur lestle deh. Setidaknya disana Sekolah tinggal Sekolah nggak ribet.

Kembali lagi ke tes keperawanan. Seperti apa sih metodenya Di kutip dari http://health.detik.com/read/2012/09/19/152554/2026208/775/tes-keperawanan-itu-seperti-apa

Menurut Dr Andri, tata cara tes keperawanan hampir sama dengan tes pap smear (untuk deteksi dini kanker serviks) atau posisi wanita yang akan melahirkan secara normal lewat jalan lahir (vagina).

Berikut tata cara tes keperawanan:
1. Wanita tidak sedang menstruasi
2. Wanita diminta berbaring di tempat tidur
3. Kaki ditekuk dengan posisi mengangkang (seperti tes pap smear atau posisi melahirkan)
4. Pemeriksaan dalam bisa dibantu dengan alat spekulum untuk membuka bibir vagina
5. Jika selaput dara masih utuh, maka akan terlihat selaput tipis yang menutupi dinding dan bibir vagina
6. Pemeriksaan harus dilakukan dalam kondisi rileks agar tidak merasa sakit.

“Tes keperawanan itu pemeriksaan dalam, biasanya dibantu dengan menggunakan spekulum untuk melihat apakah masih ada selaput perawannya,” jelas dokter yang meraih sertifikasi seksolog dari Universitas Udayana, Bali.

Mereka bisa saja

Mereka bisa saja menyamar sebagai petugas

Apakah ini untuk menentukan moral kah?. Lantas apakah jika Siswi menurut tes Ia masih perawan maka kita bisa mencapnya punya moralitas yang bagus, nggak juga dong.Bagaimana dengan Siswi ‘baik - baik’ tapi banyak yang jadi korban pelecehan seksual yang tidak sedikit pelakunya adalah gurunya sendiri bahkan ada yang pelakunya kepala Sekolah mereka sendiri. Apakah karena sudah tidak perawan dimana ia sendiri disini sebagai korban terus kita mencapnya sebagai Siswi dengan moralnya yang jelek?. Nggak juga. Bisa saja ada oknum petugas yang merekam iseng merekam proses tes keperawanan. Selama ini semacam tetek bengek agak yang agak berbau selangkangan nggak pernah jauh dari tindakan seperti itu. Nggak mustahil.

Tapi yang jelas ini adalah hal yang sangat tidak logis jika memang tujuannya hanya untuk mengetahui baik atau tidaknya moral seorang remaja putri. Kadang saya juga miris melihat teman saya yang maaf ‘hamil’ dia putus Sekolah meskipun di usianya ‘tetap’ masih butuh pendidikan, bimbingan agar bisa menatap masa depan yang lebih baik dan tidak menjadikan masa remajanya yang suram sebagai penghambat. Harusnya pihak sekolah tidak serta merta mengeluarkan “Ah kamu hamil sudah kamu jangan Sekolah lagi ” itu sama saja sudah tersesat di masa remaja tidak dibimbing pula, tidak punya ijazah yang notabennya di negeri ini ijazah selalu dijadikan acuan untuk minimal bisa bekerja. Kasian suram. Itu Hak semua warga negara sebagai mana yang sudah tercantum dalam undang - undang sebagai seorang anak juga punya HAK untuk menjaga privasinya. Dan bahkan jika tidak memperlihatkan kesensitifannya kepada siapa pun. Bahkan pada petugas tes keperawanan kelak. Saya juga nggak amit - amit mending nggak usah Sekolah daripada harus nunjukin kelamin saya ke petugas tes keperjakaan ( kalau ada ).

“Masalah moral, Masalah Akhlak biar kami cari sendiri. Urus moral mu, Urus saja Akhlak mu peraturan yang sehat yang kami mau” Iwan Fals - Manusia setengah Dewa

Miris. Para pembuat peraturan membicarakan moral tapi mereka sendiri tidak melihat moral mereka sudah baik apa belum. Bagaimana bisa seorang pemimpin menyuruh orang kencangkan ikat pinggang sedangkan dia sendiri tidak pakai ikat pinggang.

Solusi?, perbaiki kualitas tontontan, hapus semua sinetron yang tidak mendidik di saluran Televisi. Blokir semua situs porno di Internet (Faktanya masih bisa diakses).Pertegas lembaga - lembaga yang sudah dibuat seperti komisi penyiaran yang sudah macam macan ompong. Film Bioskop saja yang sudah terlanjur kelewat vulgar saja seperti tidak kena sensor sama sekali (pengalaman sering nonton bioskop 17++ padahal waktu itu umur saya baru 15 tahun tapi? ternyata dibolehin :P). Kenapa saya bicara tayangan televisi dan juga bioskop?. Karena urusan keperawanan sama halnya dengan curiga yang tidak - tidka. Terutama ketika mendapati seorang siswi ternyata sudah tidak perawan maka yang muncul dibenak orang adalah “Wah tuh cewek sudah pernah begini, begitu, wah cewek nggak bener”. Jika kenyataannya memang banyak siswi yang sering melakukan hal tidak senonoh. Motifnya pastilah tidak akan jauh dari apa yang mereka lihat , mereka cari tahu dan mereka tiru.


TAGS   Tes keperawanan /


Author

Tayusani Yuza
Mereka bilang aku galau. Aneh, aku galau tapi menikmatinya.

Recent Post

Recent Comments

Archive