Galaunya masa muda ku

Andai Nenek Itu adalah aku

30 Aug 2013 - 17:37 WIB

Sering aku terkesan betapa hebatnya seorang nenek nenek yang memungut sampah di jalan. Tidak pakai alas kaki, membawa karung, tubuhnya lebam hitam kebal dari sengatan matahari, sigap melihat sampah plastik , tidak berlebihan menanggapi panasnya cuaca saat itu.

Sedangkan Orang orang banyak yang mengelap keringatnya dengan tisu yang harganya sama dengan sekantong kresek besar sampah yang ia bawa. Jika saja ia memutuskan membeli tisu pada siang yang terik itu. Ia tidak akan makan hari itu.

Pertanyaan, apakah hari ini saya bisa makan. Atau mungkin baru besok saya bisa makan. Lalu bagaimana jika besok saya masih tidak bisa makan apa pun?. Apa yang harus saya makan sedangkan semua harga mahalnya bukan main. Siapa yang peduli jika saya lapar, kepanasan, lelah dan mati.

Ingin sekali aku punya alas kaki yang keren, bagus seperti itu. Pergi dan jalan setidaknya naik kendaraan umum, tidak panas, tidak membuat dengkul mengeras , tinggal duduk dan aku pun sampai di tempat yang aku tuju.

Ingin aku merasakan kehidupan mereka. Setiap hari tidak perlu melulu pusing memikirkan makan, tinggal jalani saja pekerjaan yang ada maka gaji pun tiap bulan ku dapatkan dan segala kebutuhan selama 30 hari tidak perlu aku pikirkan.

Berapa banyakah uang yang mereka habiskan sehingga mereka mengubah uang uang itu jadi sampah yang mengotori dunia?.

Jika saja aku tiba tiba saja ditakdirkan langsung jadi tua renta dalam waktu hitungan menit dari usia muda ku sekarang. Aku akan marah pada Tuhan. Ah, dia pun pasti bisa saja sangat marah pada Tuhan menggariskan ia jadi seorang pemulung di usia tua.

Tubuh ku lebam, tua dan tidak menarik dimata siapa pun, berpakaian compang camping dan teman teman, kerabat dan orang tua mendadak tidak mengenali ku. Aku tiba tiba saja jadi seorang pemulung yang hidup di gubuk di sebuah rawa rawa yang jauh dari hirup pikuk orang orang perkotaan. Semua ilmu yang aku pelajari mendadak hilang dan aku tidak punya keahlian apa apa. Haruskah aku bunuh diri pada hari itu juga untuk tidak hidup lagi sebagai orang yang susah?.

Maka aku akan menangis, aku lebih baik membiarkan diriku kelaparan dan mati secara perlahan. Maka penderitaan hidup pun susah, tapi bagaimana jika nanti Tuhan bertanya Apa yang sudah kamu perbuat dengan hidup yang sudah aku berikan padamu?.

Kadang hidup tidaklah sesederhana yang dipikirkan orang lain.

Aku pikir itu sampah, beliau pun berfikir itu adalah sampah seandainya ia adalah orang yang tidak serba kekurangan. Mungkin mengandalkan tidak lebih hanya 10 dan 15 ribu atau kadang tidak punya rupiah sama sekali setiap harinya. Siapa pun orang yang benar benar ingin menghargai sampah lebih mahal dari sencentong nasi dan garam sebagai lauk.

Kiamat kek, bencana atau pun kutukan tuhan datang menerpa bumi ini pun aku tidak peduli. Bagiku senang senang saja jika aku mati karena bencana karena susahnya hidup hanya Tuhan yang tahu kapan akan menghentikan kesusahan ini. Setidaknya aku tidak mengeluh, manja dengan mengemis ngemis, jilat sana jilat sini agar bisa dapat sedikit dari gelimang harta yang orang lain punya, padahal harta itu sejatinya bukanlah milik mereka , jika tuhan tidak meminjamkannya.

Aku susah dan tetaplah jadi orang yang susah, mungkin sampai mati aku tetap mati dalam keadaan susah. Aku tidak punya kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik setidaknya tidak dengan mengais sampah, ah hanya hujan uang yang dapat mengubah itu. Aku sudah tua, tidak menarik lagi, hidup sendiri , sanak saudara pun tidak begitu peduli, orang lain tetaplah orang lain, aku hidup untuk bernafas dan hari ini masih bernafas melihat kehidupan saja harusnya aku sudah bersyukur.

Besok hidup ku tetaplah jadi orang yang serba sulit. Tapi tidak perlulah dipikirkan, jalani saja semampu ku, karena aku peduli akan anugrah kehidupan. Aku tidak takut jika kematian datang, tapi mereka akan lebih ketakutan jika kematian menjemput mereka karena mereka harus meninggalkan semua yang mereka miliki. Sedangkan aku? Jika besok aku mati pun aku rela saja, bahkan jika kiamat datang meluluh lantakan dan mereka semua binasa. Ah sudahlah. Mati adalah pasti dan hidup adalah anugrah yang harus dipertanggung jawabkan. Setidaknya hari ini seorang anak muda memberiku selembar uang yang cukup untuk ku belikan nasi. Ah sedikit ringan beban ku hari ini. Satu hari saja tidak memungut sampah dan bertemu dengan belatung, berjalan di aspal yang panas bak

Tulisan ini ku dedikasikan untuk Nenek itu, Nenek yang hanya jadi figuran di kehidupan siapa pun yang melihatnya.

Orang bodoh macam mana yang mau mengambil gambar Nenek Nenek?. Ya akulah orang bodoh itu, karena yang aku tahu dengan fisik yang renta itu orang idiot mana yang tertarik untuk meliriknya, mengambil gambarnya.Aku adalah orang benci tidak diperhatikan, dan aku tahu nenek itu pasti akan sangat murka pada Tuhan karena di masa tua nya tidak diperhatikan siapa pun.


TAGS   Andai Nenek Itu adalah aku / #30HariNonstopNgeblog /


Author

Tayusani Yuza
Mereka bilang aku galau. Aneh, aku galau tapi menikmatinya.

Recent Post

Recent Comments

Archive