Galaunya masa muda ku

Awas! Hati - hati sama orang pendiam! Tersinggung nggak nanggung!

22 Nov 2014 - 08:35 WIB

Di lingkungan kamu ada orang pendiam, yang nggak asik bahkan untuk sekadar di ajak berbicara santai pun terbata - bata? Wah mulai sekarang hati - hati deh. Apa lagi kalau si pendiam itu sering kamu anggap orang yang nggak penting dan nggak patut untuk diperhitungkan. Situ pendiam?. Wajib baca artikel ini sampe habis!.

Sudah setahun gue menjalani masa - masa selulus Sekolah yang namanya kuliah. Apa sih yang gue dapatkan? materi dan ilmu baru? Teman yang baru?Atau gelar baru sebagai mahasiswa yang katanya cerdas, keren dan juga aktif?. Semua itu benar( kecuali yang aktif). Tapi diluar itu semua. Hal yang jauh lebih ngena kepada diri gue sendiri adalah kehidupan bersosialitasnya yang jauh lebih ruwet. Jujur saja, gue paling benci sama orang yang karena dia pintar bersilat lidah, apa pun yang dia omongin seolah - olah semua orang wajib mendengarkan dia, dan “hey! pendapat gue itu benar !. Kalian harus terima itu!”.

Di dunia perkuliahan ternyata gue secara nggak langsung diajarkan untuk mengenal berbagai jenis karakter manusia. Manusia yang dibilang dewasa pun nggak dewasa - dewasa amat, dibilang bocah pun udah nggak bisa dibilang bocah, ya itulah manusia umur 18 hingga 20-an ke atas.

Mahasiswa yang (Sebagian orang menilai) identik dengan kecerdasan. Mahasiswa yang seolah - olah bebas berpendapat dan mempertahankan prinsip - prinsip yang menurut dia benar. Yang selalu merasa iniloh. Gue ini Mahasiswa. Benar salah itu pendapat gue dan kalian harus setuju!. Setau gue protes itu boleh kalau ada faktanya. Tapi kalau opini doang?. Buat apa protes? apa lagi cuma membenarkan ocehan sendiri#JustMyPOV

‘Beruntunglah gue terlahir sebagai orang yang pendiam dan sulit bersosialisasi. Bukan, gue jadi anti sosial bukan karena pas berojol gue udah jadi pendiam lalu anti sosialis. Bukan, tapi dari lingkungan, kebiasaan dan juga proses - proses lainnya yang tanpa di sadari membuat gue ditempa jadi pendiam dan sulit bergaul, yang juga satu paket dengan betapa sulitnya gue menggunakan mulut gue untuk berlisan di hadapan orang lain.

Apakah faktor kehidupan di keluarga?. Ya , itu juga benar. Misalnya hubungan gue dan Bapak gue yang cukup kaku, dingin yang dimana si Anak dalam hal ini gue, dari kecil lebih mendapatkan rasa takut bahwa kalau gue kritis terhadap Bapak , Bapak pasti marah!. Contohnya saat gue bilang ke Bapak gue, gue ingat waktu itu masih ya sekitar SMP (SMP tapi pola pikir masih SD). “Pak kok ngerokok terus, nanti kanker, terus kata guru Agama haram ” dan yang terjadi adalah udah pasti. Bapak gue marah - marah.

Marahnya Bapak gue nggak sampe teriak - teriak dan ngebentak kaya senior lagi neriakin juniornya. Marahnya beliau cukup kalem tapi matanya meruncing tajam dan mengeluar kata - kata yang singkat tapi ngena. “Itu urusan Bapak!”. Ucapan yang kaya gitu lebih membuat gue jadi lemah mental ketimbang dengerin teriakan - teriakan senior.

Sejak saat itu setiap kali gue punya pendapat bahkan masalah yang harus gue utarakan ke Bapak, meskipun itu wajib ada campur tangan orang tua, misalnya masalah Sekolah. Biasanya gue pendem. “Ah, paling Si Bapak ngamuk kalau tahu nilai gue jelek, ah paling si Bapak bermuram durja lagi”. Ketakutan - ketakutan yang membuat gue akhirnya jadi orang yang selalu takut menyampaikan sesuatu ke Bapak. Meskipun itu sangat - sangat penting dan bahaya kalau Bapak gue sampe nggak tau. Tentang Bolos sekolah dan IPK ancur misalnya.

“Ah, karena belum terbiasa aja kali, nanti juga biasa kok” biasanya orang yang sering seperti ini nggak punya empati. Dan bener kebanyakan bukan orang yang punya empati. Tau darimana?. Gue mengamatinya.

Orang pendiam menjadi pendiam biasanya sadar, kalau dia ngomong pun lebih banyak buruknya daripada baiknya, karena apa? Lebih banyak terjadi salah pengertiannya ketimbang nangkep apa yang ingin disampaikan. Daripada gue pengen ngomong A tapi orang lain nanggepnya B. Daripada gue ngomong Sapi tapi orang lain nangkepnya gue ngomong Babi. Ya lebih baik gue diam dan nyimak aja orang lain ngomong buat orang lain, tapi apa yang dia omongin sebenarnya buat diri dia sendiri.

OK, deh. Sikap pendiam gue sepertinya memang bermula dari kehidupan keluarga. Gue orang yang tertutup terutama sama Bapak gue sendiri. (Lebih - lebih sama orang lain) dan pada bla bla bla. Tapi apakah gue tetap seperti ini pada orang - orang diluar lingkungan keluarga?. Tergantung siapa orangnya. Jujur aja sih, cukup ngeliat dari gerakan bibirnya, gaya bicaranya dan sebagainya. Gue tau banget mana orang yang cuma ngoceh doang sama yang bener - bener good listening.

Anggap aja ketika gue bertemu dengan orang yang cocok (Bisa pacar atau sahabat dua - dua gue pernah punya ). Ah, ternyata orang pendiam dan anti sosialis itu bisa juga crewet kalau dia menemukan seorang pendengar yang benar - benar nyaman buat diajak terbuka. Tapi crewetnya orang pendiam, apa yang dia omongin di pikirin dulu matang - matang. Kira - kira kalau gue ngomong ini , dia Paham apa nggak, dia tersinggung apa enggak dan lihat dulu ini orang , kira - kira bisa nerima apa nggak meskipun tetap kesukaran untuk dimengerti itu tetap ada. Sampe diulang beberapa kali buat paham betul dia ngomong. Tapi

Orang pendiam nggak membutuhkan sesuatu yang mewah. Dia hanya butuh di dengar dan dianggap penting ( meskipun tetap saja apa yang dia omongin mungkin nggak penting, karena nggak jelas). Dia sebenarnya ngomong apa sih?. Semenjak itu akhirnya jadi males juga dengernya. Apa lagi ketika orang pendiam bertemu dengan orang pendiam. Wah, es batu. Dua - duanya sama - sama nggak jelas. Tapi kembali lagi pada siapa orangnya. Ada juga yang pendiam tapi cuma karena sifatnya aja aslinya asik.

Gue cukup sering bertemu yang juga setipe dengan gue. Apakah gue senang?. Nggak juga. Kependiaman setiap orang berbeda - beda. Ada yang bener - bener pendiam sampe ketika diajak ngomong dia nggak peduli, ada si pendiam yang mencoba jadi orang yang asik biar dikira “Wih, gaul juga lu bro!” tapi tetap nggak asik karena cuma pura - pura. Dan berbagai jenis lainnya. Dan gue? pendiem tipe apa sih?. Ah, nanti juga tau.

By the way, Sebenarnya apa sih yang ingin gue sampaikan di artikel ini?. Ya gue ingin ngasih tahu aja sih apa yang sudah gue amati selama ini, ah namanya juga orang pendiam paling jago yang namanya mengamati. Iniloh yang pengen gue sampaikans selama setahun nginjek2 Bangku Kuliah ( Bangku dosen beda lagi,Skip nggak lucu dan nggak penting!) :

1. “Mereka hanya mau ‘berjumpa dan menemui’ kamu jika mereka benar - benar punya kepentingan sama kamu. Kalau nggak ada ya, wassalam. Elo - elo, gue - gue”

Kalau nggak ada kepentingan ya, jangankan buat nanyain “Hey, Apa Kabar?”. Kamu ketemu juga paling cuma pura - pura senyum doang.

2. “Kalau kamu orangnya nggak jelas sekali - dua kali nggak apa - apa. Lebih dari tiga kali masih nggak jelas juga?. Jangan harap dianggap penting!”

Misalnya kamu baru kenal dengan si A. Kamu coba - coba buat ngelawan arus ( Sedikit buka mulut). Dan ternyata si A nggak ngerti dengan apa yang kamu omongin. Sekali mungkin ok. Dua kali, kamu nggak jelas , si A mungkin cuma ngejawab “Ohh gitu, ohh gitu” sebenarnya dia masih nggak ngerti kamu ngomong apa. Tiga kali kamu masih nggak jelas juga si A mulai males. EMPAT KALI? Si A cuma angguk - angguk dan Bye. Seterusnya kamu akan dianggap sebagai orang yang Nggak penting dan nggak layak buat di dengerin. Ya , gak apa - apa sih. Paling cuma jadi patung dan figuran doang kalau misalnya lagi ngumpul - ngumpul. Tapi tenang kok, si A tetap bakal menghampiri kamu. Ketika apa itu?. Ya kembali ke point 1. Kalau nggak kamu bawa kamera aja minimal jadi tukang foto buat para bacoter. #Pengalaman

3. “Mengeluh? kelaut aja lo”

Jangan pernah ngeluh. Sumpah nggak ada yang peduli. Paling ya biasanya cuma bilang “Ok, Sabar aja” (Kampak mana kampak).Terus gue harus ngeluh ke siapa bro? Anak Psikologi ya? katanya sih biasanya anak psikologi paling bisa dengerin orang curhat?. Haha. Sama kaya nentuin kacamata minus berapa yang cocok untuk mata lo yang rabun. Untuk mencari tahu solusi dari masalah yang lo alamin, selain tanya pada tembok yang datar, bisa juga sih dengan menanyakannya pada orang yang pas. Siapa? Sahabat? Nah itu (Itu juga kalau punya).

4. “Hanya mau berurusan dengan mu kalau kamu punya kemampuan yang berguna untuk kepentingan organisasi dan juga diri mereka sendiri”

Misalnya Organisasi itu lagi membutuhkan orang yang suka foto - foto, nulis artikel, atau pun bikin musik pake fl studio dan bisa jadi orang yang punya hobby itu cuma elo sendiri di kampus itu. Ya udah pasti mereka bakalan selalu ngehubungin lo. Tapi kembali ingat ya, sebatas jasa lo aja. Diluar itu ya Hello Goodbye. Hampir mirip dengan point nomor 1.

5. “Semakin kamu ‘pintar’ semakin mereka mendekat. Semakin tinggal IPK mu. Semakin banyak juga yang coba mendekati mu.”

Apa yang terjadi jika kamu pendiam alias nggak asik, terus IPK kamu jelek?. Selain jadi bahan yang empuk buat “Haha-Hihi” setidaknya meskipun mereka tidak secara frontal bilang “Ini orang bego banget sih”, tapi sekilas aja kamu liat raut wajah mereka, sikap dan gelagat mereka . Kamu mungkin akan sakit hati dan tersinggung, udah resiko jadi orang pendiamKeep Poker Face.

Tapi kalau kamu pendiam dan kamu cukup dianggap pintar di mata mereka. Itu bisa jadi pengecualian. Ya minimal minta tolong soal tugaslah. Si Pendiam tapi pintar pun biasanya bakalan liat dulu siapa orangnya. Apakah dia yang minta bantuan itu bener - bener orang yang ‘cocok’. Biasanya sih kalau orang tipe - tipe yang Elo - elo , gue - gue dia juga bakalan punya dendam tersendiri buat nyuekin manusia jenis itu. “Apaan lo, cuma datang disaat butuh doang?”.

Coba aja dibalik posisinya. Kamu jadi si pendiam dan Bego bin nggak populer itu coba meminta bantuan pada si Pintar yang asik itu. Si Pintar asik itu pasti akan ngelakuin hal yang sama pada kamu. Kamu mau kesulitan dan nggak ngerti kek atau nilai kamu jeblok juga dia nggak bakal mau bantu. Balik lagi ke point 1. “Elo elo, gue ya gue!”.

Lebih miris lagi waktu kamu belum ngerjain tugas yang ternyata kamu nggak cukup mampu mengerjakannya. Padahal udah seminggu lebih berusaha ngerjain tuh soal sendiri. Akhirnya kamu pun minta bantuan ke si Pintar yang asik bin Populer. Dan ternyata dia juga belum ngerjain juga ditambah gak tau kalau ada tugas. Kamu pun ngirim soal - soal itu ke dia berharap dia bakal ngasih tau ya minimal bantulah. Tapi yang terjadi?. Si Pintar yang asik itu nggak peduli kamu udah ngerjain tugas apa belum. Dia yang tadinya nggak tau kalau ada tugas akhirnya selesain tugasnya dalam waktu sekejap karena menurut dia itu mah soal kacangan. Dan dia udah pasti nggak nanya kamu udah ngerjain apa belum. Bilang Makasih udah dikasih aja kagak. Kalau udah gitu hati pun berkata “Dia bukan orang yang cocok, jauhi dia!”.

5. “Kalau kamu asik mereka juga akan asik, kalau kamu orangnya nggak asik jangan coba - coba jadi sok Asik! “

Orang pendiam mungkin tahu orang asik itu yang kaya gimana. Ya sering ngelucu dan semua pun tertawa” haha iya lucu ya dia !”. Yang tiap kali dia ngomong seolah - olah semua orang mendengarkan. Easy going dan sebagainya. Tapi kalau kamu orangnya pada dasarnya nggak asik. Jangan coba - coba buat jadi orang yang asik!. Yang ada kamu malah dianggap sampah. “Apaan sih nih anak sok asik”. Jalan keluarnya?. Masuk kamar main laptop aja deh bro, tumpahin segala isi otak ke dalam kegiatan yang bener - bener kamu suka. Persetan dengan mereka diluar sana. Haha.

hati pun berkata “Mereka bukan orang yang cocok, jauhi mereka!”.

Meskipun kamu nantinya bisa dibilang akrab sama mereka, mereka nongkrong kamu ikut nongkrong, mereka party segala macem kamu ikut. Posisi kamu nggak lebih cuma jadi pemanis. Jadi patung aja udah. Artinya?. Ada tapi nggak ada. Nggak ada apa pun yang nggak ada yang nyari bro. Haha.

6. “Mereka hanya mau bergaul dengan orang yang sama seperti diri mereka sendiri”

Misalnya, di warteg kamu ketemu sekumpulan senior yang ya kamu kenal (cuma sebatas kenal lah). Kamu pun nyapa mereka karena mereka juga punya kepentingan yang sama di organisasi kamu ikuti(kamu akrab sama mereka di organisasi). Tapi apakah dengan mentang - mentang “Kita kan satu organisasi bro” kamu bisa gaul sama mereka?.

Cobain aja sendiri. Paling kalau nggak cuma jadi kambing congek, Kamu cuma bisa jawab “Iya, ya begitulah, ohhh~” sambil pura - pura senyum. Sebenarnya mereka juga ogah manggil kamu. Kalau sekadar nyapa - nyapa sih ya haruslah tapi hati siapa yang tahu.

Ya cuma karena satu organisasi aja sih. Kalau nggak sih ya enggak bakalan. Disini kamu harus punya skill acting yang sudah teruji kalau perlu udah dapet penghargaan sebagai Actor favorite of the years. Catat omongan gue “Jangan gadaikan karakter kamu hanya agar berharap mereka mau nerima kamu” Karakter gue yang begini, nerima gue syukur nggak juga gue nggak rugi!”

7. “Teman? gue nggak punya. Gue hanya mencari sahabat bukan teman!”

Sampai akhirnya kamu hanya menggunakan kacamata yang minusnya sesuai dengan keadaan mata kamu. Cuma orang pendiam tahu mana orang yang benar - benar tulus yaitu mana yang cuma berwajah manis pas ada kepentingan doang, yang pura - pura sok dengerin dan peduli dengan berkata “Oh” padahal nggak ngerti . Tanpa ada rasa pengen memahami dia itu pengen ngomong apa sih.

Terus hati - hatinya kenapa bro?

Umumnya orang pendiam yang super - super anti sosial punya gejala Bipolar tertentu, ada yang kadarnya sedikit atau juga yang ekstrim. Eh, tunggu dulu Bipolar apaan bro?. Baca disini wikipedia. dan juga disini . Gue sebut saja salah satu cirinya: Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang dibicarakan, Gampang tersinggung, Merasa sangat mengenal orang lain, banyak ide, kreatif dan lain - lain pokoknya banyak banget gejalanya. Terserah kalau disebut lebay (karena anda nggak ngalamin). Ya kalau apes, mereka bisa punya dendam kesumat sama siapa pun termasuk sama lo. Tapi kebanyakan mereka melampiaskan itu pada diri mereka sendiri (Baca : Nyakitin diri sendiri).

Menurut gue setiap orang butuh untuk saling mendengarkan. Dengar pun Bukan cuma sekadar mendengar tapi empati buat mencoba memahami. Gue mungkin akhirnya harus mengakui (walaupun gue sangat malu mengatakanya) bahwa gue juga orang yang punya kencenderungan Bipolar.

Ya , gue termasuk ke dalam golongan orang yang kalau lagi dalam kondisi semangatnya bisa sampai 30 Jam nggak tidur (itu pun gue masih ngerasa kurang!). Tapi kalau mood hiporia itu udah abis. Gue bisa depresi , yang hidup rasanya suram, kelam ah rasanya pengen mati aja.

Gue yang nggak mau keluar dari kamar. Ngurung di kost-an seharian. Lampu digelapin agar orang nyangkanya gue ga ada. Bahkan kalau ada yang ngetuk - ngetuk pintu pun gue cuekin. Pokoknya susah ngejelasinnya. Seperti ada yang bilang “Persetan dengan orang luar sana!”.

Gue susah konsentrasi, kuliah berantakan, banyak rencana - rencana yang ga masuk akal yang gue tempel di dinding kamar, baca buku motivasi yang nggak ngefek apa - apa, yang bisa gue lakukan adalah menuangkan itu ke dalam satu bentuk aktifitas (sayangnya terlalu over).

Ah, gue hanya ingin menyampaikan kemuakan - kemuakan yang selama ini gue pendem.

Untung gue masih sempat memberanikan diri buat ikut komunitas blog dan segala macam. Meskipun saat Kopdar gue lebih banyak jadi patungnya daripada bersosialisasinya. Karena apa?. Lagi - lagi ada yang mengatakan “Itu bukan orang yang cocok! jauhi dia!”. Siapa kah yang ngomong?. Yang jelas bukan gue. Tapi ada yang bilang Seperti itu di dalam diri gue. Cukup mampu menyembuhkan , Karena hadir ke sebuah kopdar secara langsung membuat gue nggak mengurung di kamar seharian. Lumanyan sukses membuat kadar bipolar gue nggak separah - parah mereka ( yang sejenis dengan gue) tapi Ekstrim sampai harus dibawa ke Sanatorium. Secara nggak langsung orang - orang seperti gue ini nyadar kalau mereka udah kena gejalanya, tapi yang mengakuinya?. Jarang! Takut dianggap sakit jiwa dan sebagainya.

Sangat sepele ya?. Berasal dari ketakutan untuk berbicara pada orang dekat di rumah (Orang tua) lalu nyerembet ke Kakak gue, Temen gue, Guru di Sekolah, Dosen lalu pada semua yang gue temui. Pernah pula gue takut untuk berbicara pada semua orang. Akhirnya diem aja seharian kaya mayat hidup.

Yang bisa gue lakukan adalah fokus meskipun pada satu hal dan itu susahnya bukan maen. Rasa - rasanya gue lebih banyak menemukan orang yang nggak cocoknya. Mungkin gue cuma punya Sahabat yang bisa di hitug pake jari yang bener - bener bisa gue jamin. Tulus dan bukan pura - pura. Sisanya anggap aja teman biasa. Gue seringnya suka nggak bisa nahan diri pada orang - orang yang gue anggap bukan orang yang cocok (Meskipun ok-lah kita kenal). Ah, sudahlah yang penting gue sudah mengakuinya. Hati orang siapa yang nggak tahu?. Hanya orang itu dan Tuhan yang tahu. Hati - hati ajalah.


TAGS   Pendiam / bipolar disorder / Introvert /


Comment
  • aLdyputRa 2 years ago

    Setuju, biasanya kalau udah kesinggung bisa berabe.. Apalagi kalau sampe marah, orang pendiem tuh marahnya ga karu2an :))

  • jayboana 2 years ago

    masih galau aje brow, gile ini curhatan anak kuliahan yg pernah gue rasain ketika kenal ama watak orang yg kuliah haha

    tetap semangatlah, dan keep galau ,, eh

Author

Tayusani Yuza
Mereka bilang aku galau. Aneh, aku galau tapi menikmatinya.

Recent Post

Recent Comments

Archive