Galaunya masa muda ku

Golput? Sayang banget enggak ngerubah keadaan #NgeblogPemilu2014

26 Mar 2014 - 12:44 WIB

Waktu itu gue baru punya KTP dan Punya hak milih. Waktu itu ada Pilkada Gubenur, Mamah gue ngajakin “Ayo ikutan milih, De”, tapi gue jawab “Ah ngapain , Mah” jawab gue. Eh tiba tiba Emak gue bilang Milih aja lumanyan dapet 25 ribu, asal milih si A katanya gue geleng geleng. Emang kalau enggak milih si A kenapa Mah? tanya gue, Dosa! Kan udah dikasih uang . Dan gue pun lebih baik nggak milih.

Kejadian-lah.

Dan akhirnya si A tukang nyogok duit pun terpilih jadi Gubenur. Sebelum Pilkada, Si A itu jauh jauh hari pernah ngadain kunjungan salah satunya dia dateng ke Sekolah gue. Gue kira sih mau ngasih beasiswa atau apa gitu. Eh ternyata..

Di Sekolah gue dia ngadain Kampanye terselubung. Masyarakat dari kampung kampung disekitar Sekolah gue pada dikumpulin buat datang. Dan ya, si A dan Tim suksesnya ini bagi bagiin Kaos segala macam. ngebagiin buku tulis dengan cover ‘Pencitraan’ nya. Padahal saat itu bukan waktunya untuk kampanye terbuka. Karena Pilkada masih jauh. Sekitar 5-8 bulan menjelang pilkada.

Si A ini sudah jadi rahasia umum karena keluarga nya itu korupsi gila gilaan. Dari anak sampe cucu semuanya pada megang jabatan di propinsi gue.

Dan sekarang sih udah ditangkep KPK. Mampus deh dalam hati gue. Untungnya wakilnya sangat amanah. Enggak kayak Gubenurnya.

Oke sudah cukup rasa ketidak percayaan gue terhadap Gubenur.

Sekarang gue bakal cerita tentang ketidak percayaan gue kepada kepala Desa.

Ya, Gue enggak percaya sama Kepala Desa yang memerintah di daerah gue, karena waktu itu guru gue pernah cerita atau lebih tepatnya curhat tentang kebusukan kebusukan kepala desa di daerah gue itu.

Dia si kades ini dapat anggaran dari pemerintah pusat untuk ngebenerin jalan yang rusak. Tapi ternyata kata Guru gue, anggarannya dipake buat beli mobil. Bahkan di bagi bagiin ke bawahannya sebagai tutup mulut. Akhirnya?. Jalan di daerah gue yang rusak parah enggak pernah dibenahi. Karena anggarannya di bagi2in kayak brosur. Dan guru gue sempet ditawarin tuh duit haram tapi dia nolak. Dan sejak saat itu gue enggak percaya sama kepala desa.

Satu negara Golput = Jalanan tanpa lampu merah.

Pernah gue berdoa semoga sesuatu saat Masyarakat enggak ada satu pun yang ikutan nyoblos lagi. Enggak peduli apakah itu saat Pilkades, Pilkada mau pun Pemilu sekalipun.

Gue pengen tahu gimana sih apa sih yang terjadi kalau masyarakat ga ada satu orang pun yang nyoblos?.

Gue juga sempet nanya hal ini ke Guru PPKN gue waktu SMA. Namanya Pak Rifki.

Beliau pun bersabda,

“Ya berarti nanti enggak ada yang mimpin dong, kalau enggak ada satu pun orang yang mimpin maka tandanya negara kita udah enggak sehat, Ibarat Jalanan tanpa lampu merah. Bayangin aja sendiri Jalanan tanpa lampu merah kayak gimana jadinya. Tabrakan, kecelakaan dimana - mana. Itulah gunanya pemimpin mengatur agar semuanya berjalan dengan baik, membenahi yang enggak beres dan membuatnya jadi lebih baik

Gue pun berfikir Wah iya juga ya, Pak tapi kalau pejabatnya korupsi gimana tuh pak?, Eh guru gue ngejawab Sejelek jeleknya pejabat lebih jelek lagi kalau enggak ada yang ngejabat, jalanan tanpa lampu merah.

Yeah ternyata Golput itu enggak nyelesain masalah.

OK-lah. Anggap Cuma gue yang golput jadi Cuma hilang 1 suara. Enggak ngaruh ah. Tapi sayangnya enggak. Yang golput bukan cuman gue . Faktanya tahun 2009 ada 66,9 juta (67 juta) orang Golput. Dengan suara sebanyak itu. Bisa ditebak siapa yang harusnya memenangkan pemilu tahun 2009?. Golkar?, demokrat? PDIP?, Bukan. Harusnya yang menang Partai Golongan Putih. Tapi sayangnya enggak pernah ada yang namanya partai Golput.

Masa sih dari sekian banyak calon enggak ada satu pun calon yang bener bener baik?

Noh buktinya sekarang ada. Yeeh ga perlu deh di sebutin.

Selain itu gue mulai yakin Pasti ada. Sayangnya bisa jadi enggak kepilih karena suaranya kurang karena pada golput.

Yep, setelah gue pikir - pikir. Golput ternyata sama aja menutup kesempatan untuk mereka , orang orang yang benar benar tulus ingin mengabdi untuk masyarakat, tidak bisa maju karena suaranya kurang.

Akhirnya suara suara golput itu dimainkan oknum oknum yang suka jual beli suara. Jadilah yang terpilih adalah para penebar duit dikala kampanye. Penebar janji alias PHP. Pemberi harapan kosong. Koruptor dan lain lain.

Ah, basi..

OK, gue mungkin muak dengan banyaknya koruptor di negeri ini. Banyaknya penyelewengan - penyelewengan yang dilakukan pejabat di negeri ini. Terlalu sering , bosen deh disuapin dengan segala macam contoh buruk di Televisi. Ngeliat mereka para calon Teriak - teriak Stop Korupsi di TV dengan Jempol kebawah, tapi ternyata ketangkep juga kan sama KPK.

Tapi gue pikir pikir lagi, kalau gue Golput. Itu sama Cuma bikin Para penjahat lagi dan lagi duduk disana. Lagi - lagi si kampret itu lagi yang duduk disana. Loh suruh siapa yang enggak milih calon yang kita anggap bagus?.

Padahal kita tahu ada calon yang Bagus. Tapi kita golput , salah siapa kalau si calon yang kita anggap bagus itu ga dapet suara?. Salah yang golput dong.

LAGI LAGI YANG TUA.

Bukan berarti yang tua kinerjanya jelek loh ya. Ya Gue sih sebagai yang masih muda, sepet juga mata ini ngeliat yang udah tua tua enggak tahu diri masih aja nyalon. Hey, please dong ah kasih kesempatan juga dong buat para pemuda.

Tapi masalahnya biasanya yang tua tua dipilihnya sama yang tua juga.

Dan yang muda muda, dipilihnya sama yang muda muda juga. Tapi sayangnya yang mudanya pada golput. Gimana dong?.

Gue teringat aja sama salah satu kutipan di film Sang Pemimpi.

1000 orang tua hanya bisa bermimpi, seorang pemuda dapat merubah dunia !


SAATNYA PILAH PILIH BELAJAR DARI YANG UDAH UDAH !!

OK. 5 tahun berlalu. Gue pikir sekarang harusnya kita udah bisa belajar dari yang sudah sudah. Kita sudah cukup tahu kinerja masing masing partai di masa pemerintahan sebelumnya.

Kita enggak buta kan?.

Sekarang aduh gampang banget deh nyebarnya informasi itu. Mana partai yang kadernya banyak yang korupsi dan enggak. kapan pun dimana pun tinggal ketik di internet. Hanya saka kita kadang terlalu apatis dan males buat cari tahu.


Kita sudah melihat selama 5 tahun ini. Siapa aja yang pantas, dan sangat enggak pantas untuk memimpin.

Mana partai yang kinerjanya buruk, yang banyak koruptornya dan mana yang bener - bener bersih dengan kata lain , kader - kadernya berkualitas.

Tidak perlu gue sebutkan siapa karena masyarakat harusnya sudah tahu.Sekarang ini mulai bermunculan tokoh - tokoh yang datang bak pahlawan. Para tokoh yang bener bener punya prestasi, punya kinerja yang bagus. Bukan Cuma karena dia punya uang. Terus nyebar nasi bungkus bahaha. enggak.

Tokoh tokoh ini jadi tauladan untuk para calon maupun bawahannya. Buktinya sekarang banyak tuh yang blusukan dan masuk ke pelosok - pelosok. hehe. Tinggal kita yang menilai apakah itu tulus atau enggak.

Dan please , jangan sampai mereka yang berkualitas ini sampai enggak kepilih. Gue udah muak, lagi lagi pada mau aja kebujuk nasi kotak, lagi dan lagi. Khususnya para emak emak nih termasuk emak gue sendiri yang biasanya yang kolot kolot. Pasti mau aja kebujuk sajadah, gantungan kunci, duit 10 ribu perak dll. Please dong ah.

Sudahlah kita bisa melihatnya dengan hati kita sendiri. Saran gue Cuma satu.

AMBIL APA YANG MEREKA BERIKAN, TAPI JANGAN PILIH MEREKA !!. GOLPUT? ENGGAK MENYELESAIKAN MASALAH, NGGAK MEMBUAT KEADAAN JADI LEBIH BAIK


TAGS   Golput / #ngeblogpemilu2014 /


Author

Tayusani Yuza
Mereka bilang aku galau. Aneh, aku galau tapi menikmatinya.

Recent Post

Recent Comments

Archive