Galaunya masa muda ku

Dear semua orang,Beginilah rasanya jadi orang yang Krisis percaya diri

14 Mar 2015 - 08:14 WIB

Inilah Aku. Orang yang dilanda penyakit krisis percaya diri. Aku ini adalah orang galau yang enggak dibuat - buat. Percaya enggak percaya orang seperti ku  di bumi ini ternyata masih ada. Boleh harusnya ku protes kepada pemerintah. Harusnya ada undang - undang perlindungan terhadap orang - orang enggak percaya diri. Karena rasanya jadi orang yang terkena krisis percaya diri itu lebih horror dari yang dibayangkan. Setidaknya inilah yang akui alami selama ini sebagai orang yang bahkan takut menghadapi k
enyataan dalam hidupnya sendiri.

Disitu kadang saya minder

Jika menulis blog.

Jika aku menulis, cepat atau lambat aku akan menghapusnya kembali. Bagi orang seperti ku melihat tulisan ku sendiri, enggak ubahnya melihat dedemit. Termakan omongan sendiri bahwa tulisan ku terlalu buruk untuk dibaca. Ku akui aku memang terlalu perfeksionis. Oleh sebab itu aku akan menghapus postingan - postingan di blog ku yang menurut ku jelek. Bahkan ketika ku sudah menulis berlembar - lembar halaman pun, aku sering menghapusnya. Aku kayak punya peramal pribadi di dalam otak ku, yang selalu berkata

“Tulisan lo jelek hapus aja, nulis lagi yang baru, enggak enak dibaca, kepanjangan ! hapus! itu ada kata yang salah tuh”

Ketika berbicara..

Jika berbicara aku terlalu sering tidak didengarkan.Aku punya lisan yang buruk. Lidah ku terlalu pendek hingga kadang terlalu cepat berbicara, gigi ku tidak rata hingga artikulasi ku sukar dimengerti, volume suara ku sebelas dua belas dengan orang bisu. Aku lebih suka menutup mulut. Menghindari segala sesuatu yang berbau perdebatan. Menghindari bersuara. Oleh sebab itu aku sangat benci pada orang yang terlalu lihai berbicara. Mudah membuat siapa pun yakin kepadanya. Kebohongan diubah menjadi sebuah ‘kejujuran’. Oleh sebab itu aku benci pengacara. Orang - orang kayak aku ini terlalu mudah menebak apakah si manusia jago bacot itu jujur atau tidak.

Jika Kopdar..

Jika bertemu dengan orang lain disebuah tempat pertemuan dengan orang - orang dari berbagai komunitas. Aku menarik diri. Aku memilih berada disudut dantTerdiam menyaksikan orang - orang yang dengan mudahnya berbaur, bertegur sapa, bercengkrama. Aku hanya bisa berharap ada satu dua orang yang tertarik mengajak ku berkenalan ku, orang yang enggak menarik untuk diajak berbicara, karena pasti membosankan. Aku sering takjub bagaimana bisa mereka bisa akrab secara kilat, seolah - olah sudah mengenal satu sama lain sejak lahir. Sedangkan bagi orang krisis percaya diri seperti ku kadang bertemu kawan lama pun seperti bertemu manusia dari planet antah berantah. Orang - orang seperti ku terlalu mudah untuk dilupakan karena tidak menonjol dimuka umum.

Jika dipercayakan untuk bertemu orang lain..

Penakut dan pemalu bagiku sama saja. Aku enggak ingin orang lain melihatku. Aku takut bertemu orang baru. Saat teman cewek mengajak ku ke rumahnya, rasanya seperti bertemu monster raksasa yang harus aku lawan dengan sapu lidi. Aku biasanya lebih banyak menunduk ketika diajak berbicara, dengan suara yang terbata - bata seperti bayi enggak lancar ngomong, atau orang asing yang enggak lancar bahasa Indonesia.

Saat sekolah aku terlalu takut bertemu dengan guru dan kepala sekolah, hingga selalu meminta teman ku untuk menemani, sekaligus memintanya juga untuk jadi juru bicara.

Jika ingin beli sesuatu di toko, aku sering mondar - mandir di depan toko tersebut karena ragu - ragu untuk masuk. Ragu - ragu untuk membeli meskipun niat setengah mati ingin membeli. Aku takut si penjaga toko enggak suka pada ku lalu mengusir. Padahal jelas - jelas si penjaga toko sedang menunggu pembeli. Seringnya aku malah enggak jadi beli meskipun sudah bela - bela pergi jauh dari luar kota hanya untuk datang ke toko tersebut.

Jika menghadiri acara kopdar, di depan pintu masuk dan meja registrasi sering kali aku juga mondar - mandir dulu. Aku takut bahwa sesampainya di acara tersebut orang - orang enggak suka kepada ku dan bertanya “Kamu siapa? apa kamu di undang? kok bisa ada disini?” padahal seringnya enggak seperti itu. Sering juga sudah jauh - jauh datang aku memustukan balik lagi ke rumah, karena terlalu takut dan gamang.

Jika aku dinasehati..

Mereka bilang “Apa susahnya berbicara? teman saya juga ada kok yang kayak kamu,malah dia gagap tapi dia bisa tuh ngomong dan enggak malu. “Mereka bilang semua orang punya kekurangan. Tapi kekurangan yang aku punya tidak sama dengan mereka, meski sama belum tentu mereka memahami betul bagaimana rasanya. Mereka cuma segelintir orang yang enggak punya empati, karena ada enggak ada satu pun orang yang senang dibanding - bandingkan. Jika kamu punya teman yang sedang curhat tentang kekurangannya, membandingkan kekurangannya dengan kekurangan yang dimiliki teman mu yang lain adalah ide yang busuk.

Jika aku berkata “Terserah lah orang lain bilang apa” di sosial media.

Nyatanya aku pendengar yang ‘terlalu baik’. Aku akan membalas setiap ucarapan dan kritikan. Aku terlalu sensitif aku akan berkata maaf 1000 kali jika perlu. Aku takut orang lain tersinggung. Rasanya jika ada orang yang tersinggung karena aku, ucapan kedengkian mereka selalu memantul - mantul dikepala. Aku benar - benar orang gila yang gampang merasa bersalah.

Jika aku disuruh menjelaskan sesuatu.

Orang - orang akan mengernyitkan dahi lalu berkata “Apa - apa? coba ulangin?”, ketika aku mengulangi mereka pun berkata “Ya ampun, lo ngomong apa sih udah cepet, enggak jelas enggak kendengeran lagi”. Jika saja ada rekor muri dengan judul orang yang paling terbiasa tidak dimengerti orang lain, aku pasti juara. “Mending SMS aja deh, percuma dengerin lo ngomong” sakitnya tuh kayak nusuk jarum suntik di rongga dada.

Jika aku melakukan sesuatu..

Aku akan sangat takut dan menghindari berbuat salah. Sekecil apa pun. Lagi - lagi karena aku takut orang lain marah dan tersinggung padaku. Aku sangat anti menjadi penyebab marahnya orang lain. Tapi bukan berarti aku enggak pernah berbuat salah. Kesalahan ku ini enggak bisa dihitung banyaknya. Jika diberi kesempatan kedua, ketiga, keempat dan keseratus untuk memperbaiki kesalahan Maka aku tetap melakukan kesalahan yang sama. Aku bukan orang yang bisa belajar dari kesalahan. Aku ini orang bodoh yang tidak dibuat - buat. Tupai yang kepleset ratusan kali tapi enggak kapok - kapok.

Jika aku mencintai seseorang..

Aku akan mencintainya dalam diam. Dan berbuat apa saja agar orang itu tidak marah pada ku. Seringnya justru sebaliknya, apa pun yang aku lakukan, orang yang aku cintai tersebut pasti akan marah padaku. Seringnya karena salah maksud. Bilang kamu cantik malah terdengar menghina. Kadang orang - orang enggak bisa membedakan aku ini sedang memuji atau menghina. Ujung - ujungnya aku diam dan ogah berbicara. .Bertindak dan melakukan sesuatu untuk menyampaikan sesuatu adalah gaya bicara ku.

Jika aku mendengarkan…

Jika orang itu, yang sangat spesial bagi ku berbicara banyak hal, aku akan berpura - pura tidak mendengarkan. Padahal? mustahil untuk enggak mendengarkan. Justru aku diam - diam mencatatnya. Mengaggumi kata - kata yang dilontarkannya. Dan mengenang nya setengah mati.

Jika aku ditinggalkan orang yang aku sayangi

Aku hidup dalam kenangan bersama orang itu berlarut - larut. Gagal move on hingga bertahun - tahun. Dan menghindari lawan jenis yang sebenarnya punya rasa kepada ku. Aku memang orang yang egois.

Jika aku tertekan.

Aku akan berontak. Aku Mengurung diri adalah dunia ku. Menyendiri ditempat sepi.

Jika aku menyukai sesuatu

Jika aku bernyanyi, aku memastikan tidak ada orang disekitar ku. Jika aku menulis aku tidak ingin ada orang melihat ku sedang mengetik. Bahkan ketika aku sudah punya orang yang spesial. Aku akan menyembunyikan dari orang - orang. Saat sudah mendapatkan barang - barang aku suka pun aku akan menyembunyikannya. Harusnya FBI tahu kalau di dunia ini adalah orang yang segitunya niat menjaga rahasia, dan merekrut ku jadi anggotanya.

Jika aku berani..

Maka itu adalah saat aku sedang memberontak. Tertekan dan marah.

Nama tayuza, aku sedang belajar bersuara. Aku belajar untuk tidak peduli. Tidak terlalu empati. Tapi nyata nya? aku terlalu peduli hingga enggak percaya pada diriku sendiri.

Kamu blogger ya? Mereka tahu bahwa saya punya blog bernama galau di blogdetik. Mereka tahu saya suka menulis. Mereka tahu saya gemar sekali aktif menghadiri acara - acara dimana para blogger berkumpul. Padahal? saya sendiri merasa enggak mengenal siapa diri saya, kata ‘Blogger’ saya gunakan sebagai identitas, hanya topeng, sementara saya sendiri masih mencari tahu siapa diri saya. Siapa pun anda, pasti menyenangkan ya jadi orang yang jelas. Enggak pernah merasa bingung terhadap dirinya sendiri. 

 


TAGS   Galau / Krisis percaya diri /


Author

Tayusani Yuza
Mereka bilang aku galau. Aneh, aku galau tapi menikmatinya.

Recent Post

Recent Comments

Archive